Monday, November 3, 2008

Bukuku Jendelaku

Aku tidak ingat kapan persisnya mulai suka membaca buku. Tapi kalau tidak salah setelah lagi-lagi mendapat buku sebagai hadiah dari teman-teman dan keluarga setiap kali ulang tahun, aku pun “terpaksa” melahap semua buku itu daripada dibiarkan bersarang jaring laba-laba. Sebuah keterpaksaan yang berbuah manis, tentunya.

Aku jadi keranjingan baca buku. Mengunci diri di kamar agar tidak ada yang mengganggu, melupakan makan dan minum, seharian berdiam diri di kamar, hanya demi menuntaskan rasa penasaran sewaktu membaca lembar demi lembar kisah di dalamnya, membayangkan setiap kejadian secara detail di benak, mengira-ngira kejadian selanjutnya, menebak setiap ending, berharap menjalani kisah seperti si tokoh di buku. Ahh... what an intoxicating experience!

Kisah-kisah Disney, H.C. Andersen, S.A. Conan Doyle dan Enid Blyton menjadi buku “wajib” waktu masih kecil dulu. Sambil bawa roti lapis selai kacang dan sebotol sirup, aku bersama adik akan bersepeda ke taman dekat rumah, mencari tempat di bawah pohon dan mengeluarkan salah satu seri Lima Sekawan, kemudian membuka halaman di mana George dkk tengah bersantap siang. Kemudian sambil membacakannya untuk adikku, aku membayangkan kami tengah berpiknik seperti George, Julian, Dick, Anne, dan Timmy, minus petualangan-petualangan mereka.

Menjelang remaja, kisah-kisah petualangan digantikan cerita-cerita mengenai pencarian jati diri, teman-teman, dan cinta. Dulu aku suka banget sama Judy Blume, terutama yang Are You There God? It’s me, Margaret. Karena tiga hal tadi, lengkap dibahas di sana. Tapi selain kisah-kisah manis percintaan remaja, aku juga keranjingan cerita horor! Hehehe. Jadi waktu muncul seri Fear Street dengan berbagai kisah seramnya, wah, senangnya bukan main! Emang sih bikin kepikiran aja, tapi rasa penasaran setiap mencari dalang di setiap kisah seram, serunya bukan main. Dulu aku senang banget sama seri ini yang berjudul Moonlight, di situ cewek tokoh utamanya ditaksir sama cowok separuh serigala jadi-jadian. Seram memang, tapi dulu sih ngebayanginnya keren (nggak tahu kenapa?). Lucunya, sekarang Stephanie Meyer ngeluarin Twilight saga yang juga mengangkat kisah manusia dengan makhluk supranatural. Fantastis!

Masuk masa kuliah, cerita-cerita lebih dewasa mulai menarik minatku. Jatuh cintaku pada serial chicklit bermula saat membaca Confessions of a Shopaholic. Sejak baca itu (dan masih sampai sekarang..) setiap kali membeli barang apa pun yang agak mahal, selalu terlintas kalimat andalannya Becky, “Ahh, ini kan untuk investasi. Jadi mahal sedikit tidak apa-apa. Karena nanti semua orang akan memanggilku, the girl with the blue dangling earrings, the girl with the yellow leather jacket, the girl with the khaki leather boots, bla, bla, bla.” Haha… Ceritanya Jemima juga aku suka. Saat dia berhasil menurunkan berat badannya berkat olahraga, aku juga ikut terinspirasi ngurusin badan karena kebetulan masa kuliah dulu rada gemuk. Although in the end I realized that, just like Jemima, beauty is only skin deep.

Saat itulah aku mulai baca bukunya James Redfield dan Paulo Coelho. Buku-buku mereka sarat dengan pesan-pesan spiritual dan moral yang universal. Dengan bukunya Redfield, aku awalnya tertarik sama sampul depannya yang bagus. Yang pertama kali aku baca tuh yang Rahasia Shambala. Wah baca dari halaman pertama saja sudah bikin aku penasaran dan hati damai, gitu. Ceritanya benar-benar bagus. Aku sih jadi kepingin ke Tibet dan Pegunungan Himalaya sejak baca itu. Meski nggak tahu kapan, tapi untuk saat ini rasanya cukup puas membayangkan suasana dan pemandangan di Tibet yang diramu dengan piawai oleh Redfield di bukunya itu.

Buku pada akhirnya memang menjadi “jendela dunia” bagiku untuk meresap dan merenungkan kisah-kisah di berbagai pelosok bumi ini. Dan bergabung menjadi salah satu editor di GPU, membuka jendela itu semakin lebar untukku mengarungi setiap cerita yang sarat dengan pengalaman dan kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kisah-kisah dongeng, petualangan, cinta, fantasi, setia menemani setiap fase hidupku. Menyedotku ke dalam halaman-halamannya yang sarat makna dan pesan. Sampai terkadang tanpa sadar (dan disadari), mengikutsertakan fiksi-fiksi itu dalam nyata. Fiksi melebur dalam nyata, memengaruhi cara berpikir, cara bersikap, bahkan cara berbicara.

Kini aku sudah tidak sabar lagi pengin baca Dongeng Ketiga Belas karya Diane Setterfield yang katanya seru, gothic, dan rumit. Dan sembari membolak-balik halaman-halaman Bibliophile, mencari bacaan-bacaan baru lain yang menarik minatku, sayup-sayup terdengar Chantal Kreviazuk menyanyikan lagu yang liriknya sudah tidak asing lagi bagiku, “… it feels like home to me, it feels like home to me, it feels like I’m on my way where I belong…

(Disebarkan oleh Mei. Oktober 2008)

4 comments:

Anonymous said...

Mei, omong-omong soal Lima Sekawan, aku jadi teringat. Waktu SD dulu, aku gak jadi musuhan dengan temanku gara-gara dia mamerin Lima Sekawan terbarunya. Rela deh melupakan permusuhan demi bisa minjem Lima Sekawan. Kalau nggak salah, judulnya Kereta Api Hantu. Pokoknya yang covernya Anne gendong anak babi. Oooh, nostalgia...

rina said...

Yang Anne gendong anak babi itu judulnya di bukit Billycock (semoga nggak salah spell ;-) tapi setuju, Lima sekawan itu oke banget. Nostalgia sekaligus sahabat masa kecil =)

Ririn said...

Mbak, memang dalam Lima Sekawan ada yang namanya Jo? Bukannya Jo itu anak gelandangan? Mungkin maksudnya George? Atau aku salah inget ya?

Mei said...

Oiaaa.. bener itu Jo yg anak gelandangan..maap yaa ^_^ maklum uda agak karatan nih.. hehehe... yg bener emang Georgina, tp krn dia ga suka dipanggil gitu, jadinya panggilannya George.. Oke2, ntar dibenerin deh. Makasih yaa! Seneng dehh nostalgia Lima Sekawan lg..! ^o^