Tuesday, November 11, 2008

Bosan Jadi Editor

Apa sih suka-dukanya menjadi editor? Pertanyaan tersebut mampir berkali-kali kepada saya. Sukanya? Wah, banyak, karena senang membaca, dengan sendirinya pekerjaan ini memberikan saya ruang sebanyak-banyaknya untuk membaca. Dukanya? Karena membaca sudah menjadi pekerjaan, kadang-kadang membaca sudah tidak lagi menjadi suatu kegiatan yang sifatnya menyenangkan.

Tapi duka semacam itu jarang terjadi. Selama delapan tahun menjadi editor, hanya dua kali saya mengalami editor's block kelas berat. Pernah suatu hari saya masuk kantor, menyalakan komputer, dan mendadak saya benci sekali membaca. Jadilah saya browsing internet dan menemukan kata-kata Nora Roberts yang menampar saya, "I don't have writer's block. I'm a profesional writer." Sebagaimana pekerjaan profesional lainnya, saya tidak bisa punya block.

Saya jadi merasa sedikit disindir oleh kalimat tersebut. Pekerjaan saya bukan lagi sekadar hobi membaca. Ya, benar, saya memulainya dengan kegemaran dan minat membaca, namun menjadi editor tidak semata-mata tentang membaca.

Editor menjadi bagian dari suatu sistem penerbitan yang besar. Ibarat restoran, editor adalah sous chef-nya. Ibarat rumah sakit, editor adalah perawatnya. Ibarat bisnis musik, editor adalah arrangernya.

Dulu, semasa saya kanak-kanak, saya selalu menyentuh buku dengan cara yang khidmat. Bagi saya, buku adalah cinta pertama. Saya membayangkan diri saya bisa menjadi bagian dari proses penerbitan buku tersebut. Dan sebagaimana manusia pada umumnya, saya terkadang lupa saat sudah mencapai hal tersebut. Menggapai impian berbeda dengan hidup dalam impian tersebut.

Ini bukan komplain atau keluhan bahwa saya bosan jadi editor. Tapi untuk menunjukkan bahwa kadang-kadang dewa* pun ternyata manusia biasa.

Tapi rasa cinta saya terhadap buku dan membaca selalu mengalahkan rasa bosan yang terkadang muncul. Kecintaan tersebut kembali memanggil saya pulang setiap kali saya memalingkan kepala saya terhadap cinta pertama saya itu.

(Disebarkan oleh Hetih. November 2008)
*Kata Stephen King dalam On Writing, editor adalah dewa.

1 comments:

rina said...

Duh, postingnya dalem ;-) thanks ya, udah bukain jendela untuk bisa ngintip sedikit, gimana sih rasanya tenggelam dalam lautan buku =)