Monday, January 26, 2009

Resmi Pindah Ke Kantor Baru. Yay!

Hari ini kami resmi berkantor di tempat baru. Kalau dilihat dari luar, kantor yang masih berwilayah di Palmerah ini tampak mentereng dan mewah dibanding gedung kami sebelumnya. Kalau dulu partisi kantor berwarna biru-abu-abu, di gedung ini partisinya berwarna hijau-putih. Eniwei, nggak penting deh menceritakan deskripsi kantor baru ini.

Mari kita bicara soal perasaan, cieee...

Hari pertama masuk di kantor baru sudah diwarnai dengan hujan. Basah kuyup sampai kantor. Salah masuk pintu. Tapi nggak sempat bete karena girang mau lihat kantor baru, hihihi. Telat 12 menit, hiks gara-gara muter-muter kampungan cari mesin absen. Kalau nggak muter telatnya paling 10 menit, hahaha.

Sejujurnya saya merindukan kantor lama, yang lebih memberi privasi dibanding kantor sekarang yang bersistem “terbuka”. Untung kantor ini menganut prinsip, blogging is a must. Jadi ya enak-enak aja blogging pas jam kerja. Meja kerjanya juga lebih sempit, tapi yang menyenangkan adalah jendela-jendela besar di dekat kami. Kalau lagi bete atau suntuk bisa jadi tempat mencari ilham atau kenalan sama penghuni gedung seberang. :p
Yang fun lagi, ada sofa di dekat tembok bagian pracetak, entah apa maksudnya, mungkin bisa buat buka pijat refleksi atau ngopi sore-sore.

Tidak enaknya dari ruangan bersistem terbuka adalah kita nggak bisa terlalu berisik dengan menggumamkan lagu Nidji atau Letto keras-keras, tanpa didengar teman lain atau nanti dikomplain disuruh ikut audisi Indonesian Idol. Terus susah kalau telat atau makan siang kelamaan, huhuhu, pasti setengah mata akan melirik kedatangan kita di luar jam lazim. Gawat deh... masa kalau mau makan siang ke PS mesti berombongan seperti akhir tahun kemarin? Huahaha... gimana kalau ada Metro Big Sale?

Jangan komplain melulu ah, hayo bersyukur. Hm, apa ya? Oh, saya suka dengan terangnya ruangan ini, bersihnya, jendelanya (oh, udah nyebut jendela ya?). Oh, karena saya duduk di dekat editor senior senangnya mereka suka membagikan makanan. Tadi pagi aja udah sarapan lasagna dan kue imlekan, hihihi. Bakal sehat dan gemuk nih. Dan yang jelas saya (mungkin) akan (tampak) lebih rajin karena saya duduk di antara bos dan bos. =))

(Disebarkan oleh Hetih)

Tuesday, December 30, 2008



Lokasi: Depan Plasa Senayan
Hari: Selasa, 30 Desember 2008
Jam: 11.45
Tujuan: Makan siang (Sekalian ketemu Fanny Hartanti, pengarang MetroPop: Four Seasons in Belgium dan C'est La Vie)
Kendaraan: Nyewa Mikrolet 09 dari Palmerah - Plasa Senayan Rp. 30.000,- naik berdelapan dalam suasana akrab dan kekeluargaan.
Tersangka: 4 editor fiksi, 1 manajer promosi, 1 marketing spesialis fiksi, 2 sekretaris redaksi fiksi (satu nggak keliatan karena motret, thanks ya, Michelle)
Mood: Iseng Banget

I Love You, Edward

oleh: Ucu Agustin
*Kisah jatuh cinta massal saya yang kesekian,
kali ini: terhadap Edward Cullen si vampire keren nan kelam*


Wajahnya pucat, kulitnya dingin, giginya putih sempurna menyembunyikan taring beracun yang setajam silet, senyum separo-nya membuat dada berdebar, matanya berwarna topaz dan gaya serta tingkahnya yang campuran antara lelaki pemikir abad klasik dan cowok remaja introvert resah cemas yang misterius serta galau melulu, bikin hati saya deg-degan dan malam-malam, si dia jadi kepikiran. Masuk ke dalam mimpi, dan kalau keinget jadi rindu trus geli sendiri.

Ahahaha. Dari tanda-tanda tersebut di atas, tahulah saya kalau kini saya lagi jatuh cinta temporer sama si dia: Edward. EDWARD CULLEN. Vampir ganteng berusia 190 tahun tapi abadi berusia 17. Vampir yang rambutnya hitam ikal, yang warna matanya bisa berubah-ubah: dari hijau menjadi keemasan, pria pemurung yang jarang senyum dan amat frustrasi dengan kenyataan bahwa dirinya adalah si penghisap haus darah dan perempuan yang dicintainya adalah si penyebar feromon yang beraroma amat ‘menggoda’, dan selalu menerbitkan liur vampirnya yang memang udah dari ‘sono’nya selalu dan senantiasa haus akan cairan merah yang mengalir di pembuluh: darah.

Lelaki misterius memang lebih menarik dari lelaki peramah. Lelaki misterius kayak kado yang belum kebuka isinya, kayak rumah berornamen gothic nan unik namun si pemilik jarang memasukkan tamu ke dalamnya. Kayak sesuatu berusia lama yang kita nggak tahu apa-apa tentangnya. Kayak sejarah yang kita pengen ketahui betul bagaimana asal mula dan perkembangannya, lantas bagaimana ia kini dan nanti ke depannya. Sesuatu yang sedikit diketahui, memang kerap mengundang kepenasaran besar yang memperlebar kolam rasa keingintahuan. Sebuah prosedur hukum alam yang sudah galib.

Ah Edward, Edward…

Sudah jelas, kini saya lagi kesengsem berat sama dia. Dan pastinya, sebagaimana cewek-cewek lain di dunia (tanpa memandang usia) saya yakin saya sudah tergelincir di pinggir kolam cinta maya dan telah jatuh berkubang cinta di dalamnya bersama ribuan bahkan jutaan cewek penggemar lainnya di dunia yang juga merasakan hal yang sama saat melihat Edward Cullen bangkit dari lembar-lembar teks novel Stephenie Meyer dan mewujud dalam gambaran visual yang bergerak dengan amat memesona di layar lebar

Edward bisa membaca pikiran orang dan mendengar bisikan dari pikiran tersebut. Ia yang tercepat di antara keluarga Cullen—meski bukan yang terkuat. Kulitnya menyerupai pualam, pucat sedingin es, dan berkilauan bagai berlian saat diterpa sinar matahari. Saat musim-musim dingin dan berhujan bersijingkat pergi dari Forks—kota dengan skala hujan tertinggi di dunia—Edward dan keluarga Cullen hengkang dari pergaulan. Bilangnya lagi summer vacation, padahal namanya juga vampir ya bo…. Tentu saja ia nggak mau identitasnya diketahui orang. (that’s why he’s so mysterious…)

Keluarga Cullen memang jenis vampir yang berbeda. Mereka vampir vegetarian dan sudah lama melakukan ‘diet ketat’ alias nggak lagi menghisap darah manusia. Carlisle sang kepala keluarga Cullen bahkan berprofesi sebagai dokter di unit gawat darurat sebuah Rumah Sakit di Forks. Di mana setiap hari ia berurusan dan menangani darah, tapi ‘pengalaman’ mengajarkannya untuk tidak mengulang sejarah kelam per-vampir-an yang seolah telah digariskan untuk selalu ‘kalap dan bernafsu’ bila melihat cairan darah segar yang tidak mereka punyai di tubuhnya. Meski tiap hari menghirup ‘aroma makanan’, tapi Carlisle sudah kayak para orang suci yang berpuasa dan senantiasa mampu menahan nafsunya. Hanya saja, itu cuma Carlisle—si kepala keluarga Cullen. Sedang para anggota keluarga? Anak-anak yang diadopsinya?

Apakah pula yang terjadi ketika Bella Swan—gadis dari kota terik Phoenix-Arizona datang ke Forks untuk tinggal dengan Charlie (papanya) dan bersekolah di sekolah yang sama dengan Edward? Salah satu anak adopsi Carlisle Cullen?

Rahasia keluarga Cullen terancam, karena cinta Edward membukakan kejujuran. Pada Bella—gadis manusia biasa yang penasaran karena Edward seolah menyesal telah menyelamatkannya (Bella hampir mati tertabrak mobil di halaman sekolah, andai Edward tidak datang menyelamatkannya dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa), Edward bilang, “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku adalah makhluk yang jahat?”.

Sejak kedatangan Bella, hidup Edward memang jadi sesak. Edward berduka karena menahan cinta. Akan apa jadinya bila vampir bercinta dengan manusia? Bagaimana bila si gadis terluka dan darah keluar dari ujung permukaan kulitnya? Akankah Edward menghisapnya? Atau mungkinkah ia akan membiarkan si terkasih tanpa memberikan pertolongan sedikitpun? Dengan cara apa ia akan terus bisa menahan ‘godaan’ untuk tidak mencicip rasa darah Bella yang amat ia inginkan? Takutkah Bella akan Edward?

DILEMA. Sungguh cinta yang terlarang untuk dijalani bukan? Dan di pantai, saat cinta telah menjerat mahluk berbeda klan yang bisa diibaratkan seperti serigala yang jatuh cinta pada domba, Edward pun membuka rahasia keberadaan kaum vampire yang untuk tetap bisa survive dan terus bisa hidup di antara manusia, sebagian dari mereka ternyata telah lama mengakomodir perkembangan jaman: menjalani hidup dengan cara vegetarian, tapi “Ibarat manusia yang selalu makan tofu, ada sesuatu yang tidak terpuaskan,” tandasnya ke Bella dengan wajah murung kelam yang selalu saya sukai itu.

Ya tuhan, gimana saya nggak bisa suka sama dia? Di abad yang begini gemerlap, ada makhluk demikian gelap dengan suasana hati yang selalu murung dan waspada serta was-was tapi juga penuh cinta dan merana. Makhluk ganteng tapi bahaya. Makhluk yang membangkitkan imajinasi dan juga memperdaya pesona. Edward Cullen tuh bagi saya seperti anugerah di masa krisis global, pengalih perhatian yang sangat fantastis di tengah permasalahan peradaban milenium yang demikian sesak dari soal-soal semacam climate change, mencairnya es di kutub utara, korupsi yang membengkak di pemerintahan dunia ketiga, perkara global warming yang terus mengancam lingkungan kita, sampai bangkrutnya bank dunia dan melemahnya bursa saham Wall Street serta gosip kedatangan makhluk asing dari planet luar bumi yang akan datang pada tahun 2012.

EDWARD!
EDWAR CULLEN!!!

For me, you are lover, saviour.
Semua yang didambakan imajinasi
Memenuhi segala fantasi. Ahahahaha.

Edward gelap tapi ‘benderang’. Keren dan compatible dengan zaman tapi terlarang. Berbahaya tapi mengundang. Vampir tapi puasa ngisap darah. Ganas tapi lembut hatinya. Berusia ratusan tahun tapi muda abadi, selamanya bertubuh 17.

Apanya coba yang harus ditakutin kalau ada vampir sekeren Edward muncul begitu saja di hadapan saya? Seperti yang diucapkan Madonna dalam lagunya BEAUTIFUL STRANGER, saya dengan pasti akan mengambil langkah si aku dalam nyanyian tersebut: “kalau aku pintar harusnya aku menghindar, tapi aku tidak, makanya ku terus maju ke depan. Memandang dan menemuimu… wahai kau sang orang asing yang amat memukau…”

Yup. Edward berusaha menghindari Bella saat pertama bertemu. ‘Bau’ Bella benar-benar menggodanya, tubuh Bella benar-benar diinginkannya, namun pikiran Bella… sama sekali tak bisa Edward baca. Seterang siang, ia bisa membaca pikiran orang dan mendengar bisikan yang berbunyi dalam benak, tapi Bella seperti lubang gelap. Sedikitpun, Edward tak bisa tahu apa yang dipikirkan Bella dalam benak. Dan bagi Bella sendiri, penghindaran Edward tak bisa diterimanya. Ia tahu, sebagian hatinya telah amat tertarik pada salah satu anggota keluarga Cullen tersebut. Cullen’s family yang dikenal ‘aneh’ dan eksentrik di sekolahnya, yang tak berteman kecuali dengan anggota keluarga mereka sendiri, tidak makan saat istirahat siang, dan meski baik—bagi sebagian besar anak sekolah di SMA tersebut, anggota keluarga Cullen terasa menguarkan aura yang kerap mengancam dan membuat mereka ketakutan.

Tapi kalau kata saya sih, cuma cewek bodoh yang pergi menjauhi Edward. Keren parah gitu, gila! Alih-alih pergi, saya mah malah akan bertindak seperti Bella: langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ahahaha. Ya iya lah! Pasti cuma cewek bodoh yang lari terbirit begitu tahu siapa sebenarnya cowok keren yang ada di hadapannya: Vampire. Alih-alih ngibrit kabur, Saya kayaknya justru akan langsung menurunkan kerah baju saya dan minta Edward buat menggigitnya. Ketemu vampire di abad milenium kayak geneeeeeeeee?! Pasti cuma manusia yang punya karma masa lalu yang bagus yang bisa mendapatkan anugerah serta kesempatan tersebut. KETEMU SAMA MAKHLUK PRASEJARAH, man! Huhuhuhuhu. Mau, mau, mauuuuuuuuuuu!!!! Saya mau ketemu Edward!!!!

Tulisan ini dikutip dari Akun Facebook Ucu Agustin.
Ucu Agustin adalah cerpenis yang karya-karyanya tersebar di media massa, novelis pemenang penghargaan, sutradara yang memperoleh sejumlah pujian untuk sejumlah karya dokumenternya. Karya-karya yang pernah diterbitkannya antara lain novel Metropop: Being Ing (GPU, 2005) dan kumpulan cerpen Dunia di Kepala Alice (GPU, 2006). Film dokumenter terbaru Ucu Agustin bisa disaksikan dalam film Pertaruhan (2008), yang diputar di Jiffest 2008 dan diputar terbatas di sejumlah layar bioskop di Indonesia.


Tuesday, December 23, 2008

Menunggu Hujan THR

Eh ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin...
Kalo editor lagi bete, payung nganggur diojekin...


Sebenarnya kami multitalented. Bisa ngedit, bisa nulis, bisa ngeMC, bisa nyanyi, bisa akting.
Sayang... belum ada produser yang tahu bakat terpendam kami.
Sekalian nich, promosiin diri.
Dari kiri ke kanan: Vera Malakiano, Tanti Lawra Kiehl, Hetih Wimala, Dharmarandah, dan Siska Early.

Saturday, December 20, 2008

Pindahan

Saya paling tidak menyukai kegiatan beres-beres. Meja kerja saya berantakan seperti kena hantaman badai. Tapi beberapa minggu ke depan saya harus membereskan meja kerja saya karena GPU akan pindahan gedung ke gedung cantik nan megah tanggal 15 Januari 2009. Sebenarnya pindahnya cuma ke gedung sebelah, tapi tetap saja kan kita tidak bisa melakukan beam ala Star Trek.


Di antara kesibukan berberes, tentu saja kami menemukan harta karun. Ketika menemukan buku-buku yang nyaris terlupakan kami berteriak kegirangan. “Waks, ada Midnight in Garden of Good and Evil nih...” Belum lagi ditambah dengan teman-teman yang membagikan buku-buku lama yang tersimpan di kolong meja atau terlupakan di sudut mana. Ada buku seperti Jonathan Livingston Seagull yang pernah saya baca di perpustakaan SMP dulu. Atau buku-buku besar seperti Gone with the Wind yang mengingatkan saya pada masa SMA ketika pertama kali membaca buku itu dan tak pernah menyangka suatu hari kemudian saya bisa berkenalan dengan penerjemahnya. Atau cetakan lama tahun 1980-an novel-novel Mira W. Yang ketika saya baca waktu SMP-SMA dulu selalu membuat saya bermimpi bisa menjadi bagian dari penerbitan buku semacam ini. Obsesi aneh yang tak pernah bisa dipahami oleh orangtua saya sampai sekarang adalah keinginan saya untuk menjadi bagian dari penerbitan buku.

Kenangan membanjir seiring kesibukan yang kadang bikin rese dan membuat sebagian dari kami memilih jadi pemulung daripada bekerja. Lucunya, kadang buku-buku yang disimpan bertahun-tahun lalu dan dianggap memiliki arti penting tak terkira lama-lama hanya jadi koleksi. Selama bertahun-tahun buku itu dibiarkan tak tersentuh, dan baru pada saat seperti ini kami sadar bahwa “hei, aku baru ingat ada buku itu di sana.” Dan ketika melihat buku tertentu, saya baru ingat, Ah, ini dia buku yang pernah membuatku menangis dan tertawa bersamaan. Tapi setelah tahun berlalu, buku itu hanya jadi koleksi semata, koleksi yang makin lama makin bertambah dan membuat tidak ada cukup ruang lagi untuk menampungnya. Kini sudah tiba saatnya menyerahkan kepemilikan buku tersebut kepada orang lain. Jika tidak, tidak ada ruang yang cukup untuk menampung buku-buku lain yang sudah menunggu kesempatan menyentuh hati kita.

Saya selalu percaya setiap buku pada waktu tertentu memiliki jalannya sendiri untuk masuk ke hati seseorang. Bagaimana sebuah buku yang sama bisa saja menyentuh hati seseorang sedemikian rupa, sementara buku yang sama tidak memiliki kekuatan magis itu terhadap orang lain. Waktu yang tepat juga menjadi unsur penting. Buku yang kita baca sepuluh tahun lalu dan mengguggah kita sedemikan rupa, misalnya, ternyata tidak memiliki efek magis yang sama jika kita baca sekarang.

Sambil mengorek-ngorek harta karun, saya tetap benci beres-beres pindahan ini. Tapi melihatnya melalui sudut lain, memandangi jejak waktu yang bergerak seiring dengan membongkar pernak-pernik buku atau benda-benda lain yang menjadi catatan perjalanan saya bekerja di kantor ini selama hampir sembilan tahun, saya jadi punya semangat baru lagi. Yah, walaupun dalam hati terus berharap bisa berkata, “Scotty, please beam all my things to my new office.”

(Disebarkan oleh Hetih. Desember 2008)
Gambar dari: www.fotosearch.com