Judul di atas adalah jawaban dari pertanyaan, "Mbak, gimana sih caranya supaya novel saya bisa nembus ke GPU? Seperti apa naskah yang Mbak sukai?" Ah, mari saya tuliskan tipsnya di sini.
1.Tokoh
Novel-novel laris biasanya memiliki tokoh-tokoh yang melekat di benak pembaca. Sebut saja nama-nama tokoh seperti Harry Potter, Scarlett O'Hara, Holden Caulfield, atau Edward Cullen. Buat tokoh dengan karakter yang kuat, nama yang khas bisa membantu. Tapi yang terpenting adalah meniupkan nyawa ke dalam diri si tokoh. Tokoh tersebut harus hidup, bergerak, dan bernapas pada saat kita membacanya. Si tokoh harus hidup dalam bentuk 3 dimensi di benak pembaca, bukan cuma tertulis di atas kertas.
Keputusan-keputusan yang diambil si tokoh dalam perjalanannya di sepanjang novel itu harus sesuai dengan karakter si tokoh. Seorang Edward Cullen akan melemparkan dirinya di depan mobil demi menyelamatkan gadis yang dicintainya, sementara Holden Caulfield akan memutar bola matanya lalu menganalisis kejadian tersebut dengan sinis. Scarlett O'Hara akan membunuh orang lebih dulu dibanding harus mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan keluarganya, sementara Harry Potter tidak ragu mengorbankan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.
Dan tolong deh, nggak perlu menyebutkan semua karakteristik tokoh lengkap dengan sifat-sifatnya pada halaman 2, paragraf pertama sehabis si tokoh datang terlambat ke sekolah. Misalnya, "Len adalah gadis berusia 16 tahun berambut pendek berponi dan hobi main basket. Dia sedikit tomboy tapi baik hati makanya dia punya banyak teman. Len anak tunggal konglomerat yang setiap hari diantar jemput ke sekolah dengan Jaguar. Dia berbintang Libra, makanya dia sering plin-plan mengambil keputusan. Len naksir Leo, anak basket yang juga ketua OSIS. Len paling suka pelajaran seni di sekolahnya, mungkin karena ibunya pelukis. "
Dijamin pada halaman 20, Len sudah tidak menarik lagi karena saya nyaris sudah tahu "segalanya" tentang Len dalam satu paragraf, dan pada halaman 30 saya sudah malas bacanya...
2.Alur Cerita
Kadang-kadang pengarang sering mengajak pembacanya muter-muter nggak keruan hanya karena si penulis kepingin aja memasukkan jalinan peristiwa atau dialog yang kalau ditanya kenapa dia melakukannya, jawabannya adalah, "Because I like it."
Alur cerita seharusnya dibuat untuk menghasilkan efek tertentu. Ada hubungan sebab akibat yang terjadi di dalam alur. Kejadian A menghasilkan peristiwa B, yang berlanjut ke C, dan seterusnya. Bahkan dialog pun harus ada tujuannya. Bukan cuma, "hm, lucu nih kalo gue masukin adegan tokohnya nongkrong kongkow-kongkow di Starbucks lalu ngobrol-ngobrol seperti yang suka gue lakuin sama temen-temen gue."
Atau yang lebih menyebalkan adalah pengarang-pengarang yang suka banget pamer pengetahuan yang nggak nyambung sama alur cerita, hanya untuk menunjukkan, "Nihhh... gue ceritain ya... Gue kasih tau nih tentang gimana membuat roket." Hanya karena dia tahu caranya...
3.Tema Cerita
Tidak perlu membuat cerita yang harus BEDA dan ORISINAL yang TIDAK ADA DUANYA, walaupun beda, orisinal, dan tak ada duanya memang menarik perhatian pada pandangan pertama. Daur ulang adalah hal biasa, dan tambahkan bumbumu sendiri. Baca saja Twilight Saga, Shakespeare akan menari dalam kuburnya melihat bagaimana konsep kisah cinta terlarang yang tak kesampaian dan hanya bisa dipisahkan maut yang ditulisnya 400 tahun lalu diramu sedemikian rupa oleh Stephenie Meyer. Sementara Joss Whedon akan nyengir mendengar konsep “vampire with a soul”. " Ke mane aja, Mbak Steph?" Mungkin itu kata Anne Rice. Dan yeah, sedikit cinta segitiga tidak pernah merugikan untuk dijadikan tema atau subtema.
Banyak pengarang memulai cerita dengan membawa kegelisahan dan gagasan, tapi melupakan fakta bahwa tulang punggung fiksi adalah cerita. Sehingga cerita dipaksakan masuk untuk memuat gagasan dan kegelisahan tersebut. Jangan melemparkan kegelisahanmu bulat-bulat kepada pembaca. Mulailah dengan cerita, selipkan kegelisahan dan gagasan itu dalam bab demi bab dalam novel. Selain membuat pembaca jadi penasaran setiap membalik halaman, efek cuci otaknya dijamin akan lebih dahsyat.
Tulisan ini di-cross posting dari Notes Facebook Hetih.
Saturday, March 21, 2009
Naskah Novel Seperti Apa Yang Saya Sukai?
Posted by editor at 6:11 AM 1 comments
Labels: Tips
Tuesday, December 9, 2008
Mau Jadi Penulis? Jadilah Pembaca
Maka kami membahas buku yang ingin dia tulis tersebut, yang adalah buku kumpulan resep. Dalam bayangannya, dia ingin membuat buku hard cover ukuran besar, dan memuat sekitar 100 resep. Tapi dia ingin menujukan buku tersebut bagi ibu-ibu muda yang baru menikah dan belajar masak.
Waduh, saya langsung menebak bahwa sahabat saya ini kurang mengenal target market-nya. Sekarang bayangkan dulu buku hard cover berukuran besar yang luks, isinya 100 resep sehingga tentu cukup tebal. Bayangkan harganya. Saya taksir harganya mungkin sekitar Rp100.000.
Setelahnya bayangkan ibu muda yang baru belajar masak. Buku macam apa yang akan dia beli? Mungkin buku tipis yang bisa dilipat dan dibawa ke dapurnya untuk disandarkan di dinding, tempat dia bisa membaca langkah demi langkah memasak yang harus dia lakukan. Mungkin buku yang spesifik membahas jenis masakan tertentu seperti masakan sayuran, masakan ayam, atau masakan sea food. Dan karena dia ibu muda yang mungkin baru menikah dan mungkin keuangan keluarganya belum stabil, maka saya rasa dia akan memilih membeli buku masak yang range harganya sekitar Rp15.000-30.000.
Sekarang apa hubungannya ilustrasi ini dengan judul posting di atas? Kembali ke pemikiran saya bahwa sahabat saya itu tidak mengenal target market-nya. Menurut saya, setiap pengarang harus mengerti target tulisannya. Pengarang novel remaja mesti mengenal dunia remaja. Pengarang novel percintaan harus kenal dunia ibu-ibu atau perempuan dewasa muda yang banyak membeli jenis novel begitu. Pengarang travel writings harus tahu kesukaan para backpacker. Dan sebagainya.
Sebelum mulai menulis, sebaiknya seorang penulis menempatkan diri atau membayangkan dirinya menjadi pembaca buku yang akan ditulisnya itu. Atau okelah, kalau terlalu lama membayang-bayangkan nanti ide tulisannya lenyap. Jadi, oke, buatlah dulu tulisan itu. Tumpahkanlah dulu semua keluar. Setelahnya, sebelum minta pendapat orang terdekat (bukankah pembaca pertama selalu orang-orang terdekat?), coba bayangkan diri kamu jadi pembacanya. Bukan sebagai diri kamu—kamu harus keluar dari diri kamu, harus jadi orang lain (karena pengarang kadang tidak bisa melihat lubang-lubang pada tulisannya sendiri). Bayangkan diri kamu ada di toko buku dan melihat buku karya kamu itu sudah terbit dan dipajang di rak. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan mengambilnya? Membaca sinopsisnya? Atau... melewatinya begitu saja?
Kalau kira-kira yang terjadi yang terakhir, waks! Pahitnya, lebih baik kamu simpan saja naskah itu. Tapi yang lumayan asem saja, yah, kamu jadi bisa melontarkan pertanyaan, kenapa kira-kira naskah itu jadi naskah yang dilewati? Dari situ mungkin kamu bisa memperbaikinya.
Dari sudut pandang pembaca/pembeli buku, kamu bisa mendapat poin-poin penting bagi naskah kamu. Kamu bisa menelaah ulang apakah tema yang kamu angkat dalam tulisan kamu cukup menarik? Apakah pembaca mendapat keuntungan tertentu setelah membaca karya kamu (tambahan pengetahuan atau kepuasan)? Apakah cover yang kamu bayangkan cukup eye-catching untuk bersaing dengan ribuan atau bahkan jutaan buku lain di toko buku? Apakah sinopsis yang kamu rancang bisa menarik perhatian calon pembaca sehingga mau membeli buku kamu? Bahkan sampai ke hal-hal praktis seperti apakah buku ini nanti akan terlalu tebal sehingga pembaca malas mulai membacanya (meskipun Twilight Saga sudah begitu ngetop, salah satu teman tetap malas membacanya karena melihat ketebalannya), apakah kamu bisa minta pada penerbit untuk men-setting ukuran khusus sehingga buku kamu gampang dibawa-bawa oleh pembaca? Atau apakah kamu bisa minta jenis kertas khusus sehingga buku kamu ringan bila dibawa atau harganya bisa lebih murah?
Semua ini akan lebih membantu kamu saat mencipta. Kamu jadi punya bayangan yang utuh akan karya akan akan kamu ciptakan, dalam bahasan ini adalah buku yang kamu karang. Kalau kamu punya gambaran yang utuh, kamu akan lebih semangat mengerjakan naskah kamu, dan naskah kamu juga akan lebih mudah tembus ke penerbit. Jadilah pembaca pertama naskah kamu sendiri, bayangkan kekurangan dan kelebihannya, dan selamat berkarya!
(Disebarkan Oleh Donna)
Posted by editor at 5:53 PM 4 comments
Labels: Tips
Sunday, November 30, 2008
Bagaimana Mengirim Naskah yang Menarik Perhatian Editor?
Oke, mari kita bahas persyaratan umumnya:
1.naskah novel remaja panjangnya sekitar 100-150 halaman, novel dewasa 150-200 halaman
2.ukuran kertas A4
3.ketik komputer rapi dengan spasi 1,5
4.jenis font yang mudah dibaca, misalnya Times New Roman ukuran 12
5.sertakan data diri
6.sertakan sinopsis
7.kirim ke alamat redaksi fiksi GPU yang ada di sampul belakang tiap novelnya
Tapi pukul rata setiap bulan kira-kira ada sekitar 100 naskah yang masuk ke meja sekretariat redaksi. Kalau semuanya—termasuk naskah kamu—berukuran A4, ketik 1.5 spasi, dengan jenis font tersebut di atas, bagaimana mencuri perhatian editor?
Jawabannya jadilah kreatif. Kamu bisa mengirim naskah kamu dalam amplop khusus. Atau kamu bisa menjilid naskah kamu dengan rapi, bukan sekadar dengan lakban hitam. Kamu juga bisa menyertakan desain cover yang lucu. Selain itu tidak usah terpaku pada jenis font yang dianjurkan. Sebenarnya yang dianjurkan adalah font yang enak dibaca, dan font yang enak dibaca bukan hanya Times New Roman ukuran 12 poin.
Tapi bila menjilid dengan ring besi rasanya terlalu mahal, atau mencetak cover desain pribadi terlalu rumit, apa yang bisa kamu lakukan? Sederhana saja sebetulnya. Jadilah penulis yang rapi. Kirimkan naskah yang bersih dari kesalahan ejaan. Bila saat kamu periksa ulang hasil cetakan ternyata masih ada kesalahan, jangan di-tip-ex lalu diperbaiki dengan tulisan tangan, tapi print ulang halaman tersebut. Gunakan printer dengan tinta memadai sehingga hasil cetakannya tegas dan bersih, enak dilihat. Susun semua kelengkapan dengan runut dan rapi. Misalnya, data diri, sinopsis, baru kemudian masuk ke isi novel.
Bila mendesain dan menghias memang bukan sisi kuatmu (tentu saja kalau bisa mendesain, kamu jadi desainer grafis, bukan pengarang), gunakan yang memang menjadi bakatmu untuk mencuri perhatian editor. Tulislah data diri kamu semenarik mungkin. Saya pernah membaca curriculum vitae yang dibuat seolah si penulisnya sedang menjadi terdakwa di pengadilan—kreatif dan menarik sekali, kan? Kadang data diri yang lucu dan menarik (sebutkan saja semua pengalaman kamu terutama yang mendukung novel kamu) sudah membuat “a foot in the door” bagi novel kamu.
Selanjutnya tentu saja sinopsis. Sinopsis pendek sangat penting. Panjangnya sekitar setengah halaman atau 3-5 alinea saja. Buatlah semenarik mungkin. Tokoh-tokoh dan poin-poin penting cerita harus ada. Tunjukkan di mana serunya novel kamu. Saat menulis sinopsis pendek ini, bayangkan si pembaca ada di toko buku yang hiruk-pikuk dengan pilihan beragam buku. Bagaimana cara kamu menariknya untuk membeli buku kamu?
Lalu karena kiriman naskah ini ditujukan untuk dibaca editor, ada baiknya juga kamu sertakan sinopsis panjang. Sinopsis panjang ini isinya lebih mendetail, menguraikan seluruh alur cerita, dan membeberkan rahasianya, tapi panjangnya jangan lebih dari 3 halaman. Jangan membuat si editor belum-belum sudah bosan dengan tulisan yang berpanjang-panjang.
Dan akhirnya, menginjak bagian yang paling penting: naskah. Bila kamu sudah melakukan saran saya di atas, yaitu mengirimkan naskah yang “bersih”, maka secara sekilas tampilan naskah kamu pasti sudah lumayan enak dilihat. Selanjutnya, harap kamu perhatikan bahwa novel biasa menggunakan indent paragraph, bukan hanging. Perhatikan juga kebiasaan penerbit tujuan kamu dalam hal ejaan, bahasa selingkung, gaya penulisan percakapan, dll. Bila kamu sanggup, terapkan gaya penerbit tersebut pada naskah kamu.
Editor pasti lebih senang menilai naskah yang bersih dan menarik, dan dengan begitu tentu saja kans tembusnya naskah kamu untuk diterbitkan jadi lebih besar.
(Disebarkan oleh Donna. Desember 2008)
Posted by editor at 7:05 PM 2 comments
Labels: Tips
Sunday, November 2, 2008
Awan Ide Melayang-layang
“Dari mana sih idenya?” Itu pertanyaan standar yang selalu dilontarkan pada pengarang mana pun di mana pun di seluruh dunia ini. Saya bukan published novelist---yet (harapan selalu ada... hehehe), tapi mungkin saya bisa berbagi sedikit soal dari mana datangnya ide itu.
Buat saya, datangnya ide bisa dibagi dalam dua kelompok besar: yang dipaksa dan yang datang begitu saja.
Yang datang begitu saja hampir selalu datang dalam suasana santai:
· saat mandi
Jangan salah, kamar mandi bisa mendatangkan banyak ide cerita lho. Mungkin karena suasananya yang dingin, mungkin karena saat membersihkan diri kita juga membersihkan aura kita hingga ide mudah datang. Saat ngebom di wc pun jadi saat yang tepat bagi munculnya ide, mungkin karena saat ngebom kita sering melamun.
Konon kabarnya, wapres pertama kita, Bung Hatta juga penganut aliran kamar mandi ini. Di kamar mandinya sampai disediakan meja tulis, kertas, dan alat tulisnya sekalian, biar ide-ide segar yang muncul bisa cepat dituangkan di atas kertas dan tidak kabur entah ke mana.
· setengah tidur
Tidur-tidur ayam bisa membuat kita melamun ngalor-ngidul, akibatnya ide-ide cerita tiba-tiba bermunculan. Salah satu teman saya bilang dia menyimpan buku catatan dekat tempat tidurnya supaya kalau ada ide cerita, dia bisa langsung bangun dan menuliskannya. Saya pernah mencoba sih, tapiii... kemudian rasanya lebih enak bablas tidur ya... (makanya sampai sekarang belum jadi published novelist... hehehe)
· saat jalan kaki sendirian
Saat jalan kaki sendirian tanpa teman ngobrol, tanpa sadar kamu akan mengamati sekitarmu. Apakah mobil tua di sana benar-benar sudah teronggok lima tahun tanpa tersentuh? Apakah bakul jamu itu sebenarnya orang kaya di desanya? Pertanyaan-pertanyaan yang tanpa sadar muncul bisa jadi awal cerita.
· saat baca buku, nonton film, atau mendengarkan lagu
Saat menemukan tokoh yang unik di buku atau film mungkin kita jadi teringat ada tokoh yang kurang-lebih sama dalam kehidupan kita, lalu ingin menulis tentang dia. Atau mungkin ada jalan cerita buku atau film yang melenceng dari keinginan kita hingga ingin kita reka ulang sendiri. Sementara saat mendengar lagu tertentu, mungkin tanpa sengaja perasaan kita jadi mellow atau riang, yang menimbulkan ide baru untuk tulisan kita.
Yang dipaksa:
· dengan brainstorming dan mind maping
Tulis semua ide di kertas, jelek-bagus, cetek-deep, semua saja (brain storming). Atau tulis satu ide, lalu kaitannya ide itu dengan hal lain, sambungkan dengan yang lain lagi (mind maping).
· sengaja nonton film, baca buku, atau mendengarkan lagu
Punya ide tapi masih kasar banget dan bingung bagaimana mengembangkannya, atau punya perasaan tertentu dan pengin nulis tapi nggak jelas arahnya ke mana? Cari buku, film, atau lagu yang mendukung ide atau perasaan itu, nikmati dan mungkin membantu. Atau lebih blank lagi, benar-benar tidak punya ide? Cari buku, film, atau lagu yang lagi in atau dibilang orang bagus, mungkin ada satu atau dua ide yang bisa dicuri dari sana.
· mengamati lingkungan sekitar
Lingkungan kita punya banyak potensi cerita. Paling dekat saja, orangtua atau saudara di rumah, pasti ada tingkah polah atau pemikiran mereka yang bisa jadi sumber ide. Itu baru lingkungan terdekat, bagaimana lingkungan yang lebih luas? Sekolah, kampus, tempat kerja?
· membongkar peti kenangan
Ingat-ingat lagi pas pertama kali pacaran rasanya kayak apa atau bagaimana asyiknya ngegeng pas SMA. Mungkin ada satu-dua detail yang layak dikembangkan jadi cerita.
· latihan menulis
Tulislah sesuatu sedikit setiap hari. Dengan memaksa diri menulis, pelan-pelan ide akan muncul dengan lancar.
· baca koran/majalah
Setiap hari ada aja peristiwa yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di kepala kita. Kenapa anak orang utan bisa lahir di kebun binatang di Austria, misalnya. Dari pertanyaan ini bisa aja muncul ide cerita tentang kisah cinta si pengasuh orang utan itu lho...
Nah, moga-moga tips ini bisa berguna buat menggali ide dari gumpalan abu-abu dalam kepala kita itu. Soal menuangkannya dengan runut, mengalir, dan menggugah rasa... hmm... itu nanti mungkin bisa dikulik di postingan yang lain. Ciao!
(Disebarkan oleh Donna. November 2008)
Posted by Donna at 6:27 PM 0 comments
Labels: Tips
Sunday, October 19, 2008
Kisah Cinta Editor dan Pengarang
Tapi apakah benar sehari-harinya pekerjaan saya lempar-lemparan piring bersama pengarang? Sebetulnya tidak. Sebetulnya hubungan saya dan pengarang-pengarang saya (kecuali beberapa) lumayan harmonis. Saya sempat jalan-jalan bersama beberapa pengarang saya. Beberapa dari mereka juga main ke rumah saat saya melahirkan.
Jadi bagaimana supaya kisah cinta editor dan pengarang berakhir bahagia? Saya akan menceritakannya dari sisi editor dan tugas-tugasnya.
Pertama, tentu saja datanglah sebundel naskah di meja editor (saya). Saya membacanya dan menilainya layak terbit. Lalu saya mengontak si pengarang (karena itu jangan lupa cantumkan nomor telepon yang mudah dihubungi--ehm, HP maksudnya, jangan kasih nomor telepon tetangga lagi--dan alamat e-mail). Hubungan pun dimulai dengan perkenalan. Ada editor yang supel dan bisa langsung ketawa-ketiwi bersama pengarangnya seperti teman saya si Vera. Saya sendiri tidak terlalu pandai bicara, jadi biasa setelah memperkenalkan diri saya langsung menyatakan maksud, dan dengan demikian kita menginjak poin kedua.
Kedua, saya akan memberitahu kekurangan dan kelemahan naskah yang saya baca itu. Di mana “bolongnya” alur, di mana kakunya bahasa (biasa pada percakapan). Atau kalau perubahan terlalu banyak, bisa juga saya hanya menceritakan garis besar lalu mengirim balik naskah yang sudah diberi catatan. Mendapat masukan begini, pengarang punya banyak reaksi. Ada yang ngambek, ada yang nggak ngambek tapi ogah mengubah apa pun (ya, ya, setiap titik-koma dalam naskah sudah dipikirkan matang-matang sebelum dibubuhkan di sana), tapi ada yang menerima dengan sukacita dan riang gembira.
Maka masuk ke tahap ketiga, pengarang merevisi naskah dan mengirim balik kepada saya. Ada pengarang yang begitu diintip naskah revisinya sudah oke banget, semua masukan dijalankan dan naskah jadi makin oke, bahkan bisa nyaris tak perlu editing lagi. Tapi, ada juga pengarang yang malah ngelantur, yang diminta apaaaa yang direvisi apaaaa. Ada juga yang ogah melakukan revisi.
Apa pun hasil revisinya, pada tahap keempat, naskah akan diedit. Kalau naskah sudah oke, editing hanya mencakup tata bahasa dan ejaan. Tapi kalau naskah masih berantakan, catatan di sana-sini atau bahkan pemotongan besar-besaran tentu masih harus dilakukan.
Kelima, saya biasa mengirim naskah hasil editing saya kembali ke si pengarang. Pengarang saya minta memeriksa ulang dan menanyakan ini-itu yang dirasanya kurang memuaskan.
Setelah pengarang puas, masuk ke langkah keenam, naskah akan di-setting, lalu setelahnya dibaca proof-nya. Dalam proses pembacaan proof, masih mungkin ada masukan lagi dari editor yang membacanya. Pernah saya sebagai pembaca proof menyatakan satu bab (SATU BAB) itu tidak nyambung dengan cerita keseluruhan dan bisa dibuang daripada membuat naskah terlalu panjang. Pernah juga editor lain yang membaca naskah yang saya edit menyatakan naskah tersebut kacau-balau yang berbuntut satu naskah (SATU NASKAH) ditulis ulang oleh pengarangnya. Jadi jangan sepelekan langkah keenam ini.
Tujuh, kalau semua langkah itu terlewati mulus, naskah akan dicetak, terbit, dan terpajang di toko buku. Tapi apakah hubungan editor dan pengarang sudah berakhir? Tentu tidak, saat buku sudah ada di pasar, mulailah proses memasarkan buku. Caranya? Temu pengarang, book launching, talkshow radio, dll. Saya pernah menemani pengarang saya jadi pembicara di suatu seminar membaca, tapi biasanya sih saya cuma menemani di belakang panggung saja.
Di luar masalah promosi ini bagaimana hubungan editor dan pengarang? Bisa manis seperti yang sudah saya kisahkan pada alinea kedua di atas. Utamanya, hubungan yang dijalin dengan sopan dan hangat tentu bisa terus mengikat tali silaturahmi, bahkan meningkatkan hubungan kerja jadi hubungan pertemanan yang erat dan akrab.
(disebarkan oleh Donna)
Posted by Donna at 11:20 PM 0 comments
Labels: Tips
Tuesday, October 14, 2008
Tips n' Trik Jadi Penulis Best-Seller
Keuntungan lain yang diperoleh mereka yang berhasil sebagai penulis bukan hanya karya mereka dinantikan banyak orang, tapi juga terbukanya pintu ke profesi lain yang tentunya juga berhubungan dengan tulis-menulis. Banyak penulis fiksi yang karyanya dibeli production house untuk dituangkan dalam bentuk cerita sinetron ataupun film layar lebar. Bahkan kemungkinan besar si pengarang tersebut pun akan ditawari menjadi penulis skenario. Mula-mula mungkin mereka diminta membuat skenario untuk karya-karya mereka sendiri, tapi biasanya akan berlanjut diminta menulis skenario untuk karya-karya orang lain atau menulis skenario pesanan.
Penulis-penulis GPU yang juga berprofesi sebagai penulis skenario di antaranya yaitu:
- Hilman,
- Boim,
- Gola Gong,
- Adra P. Daniel,
- Gustin Suraji,
- Zara Zettira,
- Agnes Jesicca, Serena Luna (Alexandra Leirissa, Donna Rosamayna, dan Julia Stevanny), serta
- Alberthiene Endah.
Seperti banyak penerbit lain, Gramedia Pustaka Utama juga kebanjiran naskah masuk setiap harinya. Jika dijumlah, lebih dari 60 naskah setiap bulan. Kalau musim libur, naskah yang masuk semakin banyak. Naskah-naskah yang masuk akan mengalami dua seleksi.
1. Seleksi penerbit --> dilakukan oleh editor.
2. Seleksi pasar --> dilakukan oleh pembaca
Buku yang sudah terjual akan mengalami seleksi pasar. Kalau pasar suka, buku itu laku. Begitu juga sebaliknya. Kalau pasar tidak suka, penjualan bisa macet.
SELEKSI PENERBIT
Tugas editor:
1. Menyeleksi naskah masuk: menilai dan mempertimbangkan
2. Mengedit: membuat naskah menjadi enak dibaca secara teknis (copyediting EYD & KBBI) dan secara isi keseluruhan (kalimat, paragraf, logika, fakta dan kesinambungan isi).
3. Proof reader. Setelah selesai diedit, naskah disetting sesuai format buku. Lalu dibaca lagi, masih adakah hal-hal yang terlewati? Proof reader merupakan saringan terakhir redaksi sebelum naskah turun cetak.
4. Berkonsultasi dengan pengarang masalah judul---jika judul kurang sesuai---dan sinopsis.
5. Memesan cover (yang sesuai dengan isi cerita dan gaya ilustrator).
Ada 3 jenis naskah yang bisa lolos seleksi editor:
1. Naskah yang memang sudah bagus/baik luar dan dalam.
Artinya, judulnya bagus, pengarangnya sudah terkenal, isinya juga sudah rapi, bahasanya bagus, tidak memerlukan banyak copyediting & editing; gaya berceritanya enak, tidak lamban atau bertele-tele, tidak membosankan. Biasanya naskah-naskah yang langsung diterima seperti ini adalah naskah-naskah pengarang senior. Jam terbang sebagai penulis menjadi salah satu sebab.
2. Naskah yang isinya bagus, tapi masih memerlukan copyediting.
Banyak juga naskah-naskah dari pengarang senior yang memerlukan copyediting walaupun jam terbang mereka sudah tinggi.
3. Naskah yang isinya lumayan, tapi banyak editing maupun copyediting.
Bisanya ini naskah pengarang pemula. Ada dua jenis naskah pemula. Naskah yang hanya dibaca satu editor dan editor yang bertugas mengatakan naskah ini bagus, hanya perlu editing dan copyediting. Kedua, naskah yang dibaca oleh lebih dari satu editor. Ini disebabkan editor yang pertama tidak yakin, naskah ini lolos seleksi atau tidak. Jadi perlu pendapat dari editor lain. Biasanya naskah cukup menarik, tapi kami ragu-ragu, menarik sekali atau tidak ya. Bisanya yang lolos second opinion akan mendapat kesempatan diterbitkan. Nah, sebagian besar naskah golongan ketiga ini akan mengalami banyak editing isi (fakta yang tidak menyambung) dan copyediting.
Apa yang menjadi pertimbangan para editor ketika memilih naskah?
1. Judul.
Judul harus menarik. Biasanya judul sesuai dengan jenis tulisan/naskah, atau ada pengarang yang judul-judulnya khas.
* Cerita remaja atau teenlit:
Cerita remaja biasanya judulnya lucu, gaul, terkesan lincah, khas remaja. Bisa berupa
kalimat: Rasanya Mau Mati Aja!; atau parodi: Gone with the Gossip, The Lost Boy: Salah Culik;
intisari cerita: Peluang Kedua. Bisa juga berupa alias dari tokoh: De Buron.
* Roman:
Novel roman biasanya judulnya romantis: Bila Hatimu Terluka; Ketika Cinta Harus Memilih; Piano di Kotak Kaca.
* Metropop:
Metropop adalah novel yang mengisahkan kehidupan masa kini di kota besar/metropolitan. Seperti teenlit, biasanya judulnya juga gaul. Contohnya: Zona@Tsunami; Soulmate.com; Cinta Paket Hemat; Tarothalia; Say No to Love.
* Fiksi Islami
Judul-judul dalam fiksi Islami juga khas, yaitu kata-kata yang menyejukkan batin. Contohnya: Ayat-Ayat Cinta; Ketika Cinta Bertasbih..
* Fiksi anak-anak
Biasanya judulnya sesuai dengan kehidupan anak-anak SD. Misalnya: Sunatan Massal; Duit Lebaran; Petualangan Buana dan Ema: Gara-gara si Munyuk.
* Roman misteri
Judulnya mengisyaratkan isi cerita tersebut. Misalnya: Ketika Maut Ikut Bercinta; Misteri Gaun Merah, Apartemen Lantai 7.
2. Gaya bercerita.
Lancar, menarik, tidak lamban dan bertele-tele, tidak monoton, tidak datar.
Gaya bercerita harus membuat seseorang ingin terus membaca. Pada waktu menilai naskah, para editor menempatkan diri sebagai konsumen awal. Judul, oke. Gaya bercerita? Wah, baru 10 halaman sudah ingin berhenti, itu berarti buku atau naskah tersebut tidak menarik. Karena itu biasanya Bab 1 adalah bab yang menggugah minat pembaca. Pengenalan tokoh utama. Jangan konvesional. Misalnya tokoh bangun tidur, lalu beres-beres tempat tidur, mandi, setelah itu sarapan, lalu beres-beres buku, lalu pamit dan lari ke sekolah. Sebagian besar pembaca tidak suka adegan seperti itu. Lebih menarik adegan: tokoh utama menerobos masuk ke kelas dengan heboh karena sudah terlambat. Karena tadi buru-buru, dia nggak sadar kaus kakinya belang-belang. Lalu flashback sedikit ke belakang saat terlambat bangun di rumah. Atau bab tersebut sudah dimulai dengan konflik ringan yang menggelitik.
3. Tema.
Tema harus menarik. Tema satu buku dan buku lain bisa saja sama---paling banyak tentang cinta. Tapi walaupun sudah banyak tema cinta, jika diceritakan dengan gaya dan sudut pandang yang berbeda, ya tidak apa-apa. Lebih baik lagi kalau memilih tema yang baru, yang jarang atau belum pernah dibuat orang. Calon pengarang atau pengarang harus banyak membaca berbagai jenis tulisan supaya tahu tema apa saja yang belum digarap, bisa juga mendapat inspirasi dari film tertentu, tapi diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda. Itu sah-sah saja.
4. Isi
Isi tidak vulgar, tidak menyinggung SARA, ada manfaat atau pesan moral yang bisa dipetik pembaca dari karya tersebut. Misalnya: mendidik, mengajarkan kebaikan, kebijakan, kepantasan, kejujuran, cinta kasih, rela berkorban, optimisme, rasa kemanusiaan.
5. Panjang naskah
Naskah jangan terlalu panjang juga jangan terlalu pendek. Untuk novel pemula panjangnya 200-250 halaman 1,5 spasi. Untuk cerita remaja berkisar antara 150-200.
2. SELEKSI PASAR
Setelah lulus seleksi editor dan diproses hingga terbit, naskah akan mengalami lagi seleksi kedua yang lebih berat, yaitu seleksi pasar.
Pada saat ini ada begitu banyak penerbit, ada begitu benyak buku diterbitkan, sementara daya serap pasar sangat rendah. Hasil analisis penjualan GPU tiap bulan memperlihatkan bahwa 80% pembeli ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Paling besar di Jakarta. Oleh sebab itu buku-buku yang terbit akan mengalami persaingan hebat di pasar.
Berbagai kemungkinan "nasib" buku-buku yang dilempar ke konsumen melalui toko buku adalah:
1. Bestseller/fast moving books: mengalami cepat cetak ulang, pengarang langsung terkenal, karya berikutnya selalu dinantikan.
2. Disukai/fast moving books: cetak ulang tidak terlalu cepat, namun jika si penulis pengirim naskah lagi ke penerbit, tim redaksi akan mempertimbangkan untuk menerbitkannya.
3. Slow moving books: penerbit tidak akan mencetak ulang naskah tersebut, tapi kalau pengarang mengirim naskahnya kembali akan dibaca dan dipertimbangkan. Jika lebih bagus dari yang pertama, akan diterbitkan. Jika kurang atau bahkan tidak laku di pasar, biasanya pihak penerbit tidak akan menerbitkan lagi, karena buku-bukunya akan menumpuk di gudang, dan itu merugikan penerbit karena penerbit harus membayar sewa gudang untuk penyimpanan buku-buku tersebut. Akhirnya, biasanya penerbit akan mengobral buku-buku yang tidak laku tersebut.
Persaingan ini menjadi sangat berat, karena hampir setiap minggu muncul buku baru, sehingga buku yang terbit minggu sebelumnya dan kebetulan kurang diminati pasar akan tersisihkan.
Sekarang, bagaimana trik-trik agar naskah tidak ditolak?
1. Usahakan membuat novel yang baik, yaitu novel yang bagus, menghibur, lucu, mengandung manfaat, mengandung pesan moral, yang membuat penasaran atau menimbulkan misteri dari bab awal sampai akhir, dan ditulis dengan kaidah Bahasa Indoensia yang baik (untuk novel remaja, memakai bahasa gaul sah-sah saja, asal bukan bahasa yang kasar, vulgar), diceritakan dengan gaya bahasa yang enak dibaca, tidak membosankan, dengan karakter-karakter dan cerita yang dibuat sebaik mungkin.
2. Banyak membaca berbagai jenis tulisan atau terbitan agar tahu berbagai karekter jenis terbitan. Dengan demikian kita juga tahu jenis apa yang kita tulis, tema apa saja yang sudah banyak di pasaran, dari sisi mana kita mau membeberkan kisah kita walaupun tema tersebut sudah ada. Kita harus tahu apa kekhasan roman biasa, roman misteri, fiksi Islami, teenlit, metropop.
3. Selain harus suka baca, penulis juga harus terus latihan. Misalnya satu karya kita ditolak, jangan putus asa. Biasanya editor GPU---jika diminta---memberikan alasan kenapa karya tersebut ditolak, agar calon pengarang juga tahu di mana kekurangannya. Kami katakan "jika diminta", karena kami tak mungkin menulis satu demi satu alasan untuk sekian banyak naskah yang belum memenuhi syarat atau belum lolos seleksi. Ada begitu banyak pekerjaan editor, sehingga tidak bisa semuanya kami beri komentar.
Seperti pemain piano, atau ilustrator, mereka harus terus berlatih agar supaya tidak kaku, pegitu pula penulis. Ada penulis yang baru menulis satu novel, diterbitkan, tapi lalu berhenti atau lama tidak menulis, padahal dia berbakat. Biasanya karya keduanya, yang mungkin lama baru dia tulis lagi, tidak sebagus karya yang pertama. Jadi di sini, bakat dan latihan juga menentukan. Ada pengarang kami yang menyediakan waktu dua jam dalam sehari untuk menulis. Apa saja, katanya. Jadi karya-karyanya juga terus meningkat kualitasnya.
Bagaimana sebuah karya bisa menjadi bestseller?
1. Karyanya memang bagus dan sangat disukai. Bagian mengenai disukai sudah saya uraikan di atas: judul, tema, gaya bercerita, isi cerita.
2. Kedua, ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri: faktor karunia Tuhan, yaitu keberuntungan. Keberuntungan ini bisa berbentuk: karya dengan tema tertentu datang di saat dan tempat yang tepat. Misalnya: Hilman, Esti Kinasih, Dian Nuranindya, yang mengisi kekosongan jenis cerita remaja saat itu.
3. Promosi yang bagus.Pengarang-pengarang sekarang cenderung melakukan promosi diri, membangun fans, melalui blog, friendster.
HONOR DAN ROYALTI
Ketika naskah sudah diputuskan untuk diterbitkan, dan pengarang sudah diberitahu naskahnya diterima melalui telepon, surat, ataupun e-mail, maka kami mengirim kontrak ketika naskah sudah hendak diedit. GPU memberikan 10% royalti dari oplah buku, dikalikan harga buku, dipotong pajak. Pada waktu penandatanganan kontrak, pengarang akan mendapat 25% dari royalti sebagai uang muka. Sisanya akan dibayarkan per enam bulan, sesuai eksemplar buku yang terjual.
JIKA NOVEL DIBELI PRODUCTION HOUSE
Jika karya-karya seorang pengarang termasuk best-seller ataupun disukai, biasanya ada pihak PH yang menghubungi. Mereka mau membeli novel tersebut untuk difilmkan, dibuat sinetron, atau FTV. Bahkan, selain dibeli, biasanya pengarang tersebut juga diminta menuliskan skenarionya sekaligus. Atau malah diminta membuat skenario untuk naskah-naskah lain di luar karyanya.
Hanya, yang perlu saya ingatkan di sini, biasanya sebagian besar dari mereka yang lalu menjadi penulis skenario tidak bisa lagi menulis novel, kecuali mereka melakukan kedua hal tersebut bersamaan: aktif menulis novel dan juga skenario. Berbeda dengan novel, skenario adalah rencana lakon sandiwara/sinetron/film berupa adegan-adegan yang tertulis secara terperinci sebagai panduan akting bagi para pemeran. Jadi tidak ada jiwanya, karena emosi dalam cerita akan divisualisasikan oleh si pemeran. Sedang novel adalah cerita tentang kehidupan yang sarat dengan emosi, ungkapan batin tokoh-tokohnya.
(disebarkan oleh Agnes Jessica, Eka Pujawati, dan Novera Kresnawati)
Posted by editor at 6:36 PM 7 comments
Labels: Tips