Showing posts with label Peristiwa. Show all posts
Showing posts with label Peristiwa. Show all posts

Thursday, November 13, 2008

Everything’s Gonna Be All Right…

Frankfurt am Main, 15 Oktober 2008

Arloji di tangan menunjukkan pukul 21.45 waktu setempat ketika saya dan Mbak Yanti keluar dari hotel. Setelah mencegat taksi dan sedikit berbahasa Tarzan sambil menunjuk-nunjuk kertas berisi alamat sebuah kelab malam, mobil pun melaju dengan kecepatan cukup tinggi.

Kami tiba di King Kamehameha Club tak sampai lima belas menit. Tepat waktu untuk menghadiri pesta perayaan 100 juta kopi terjualnya buku-buku karya Paulo Coelho di seluruh dunia. Ya, malam itu kami, bersama wartawan, penerbit, para sahabat dari industri perbukuan diundang penulis besar asal Brazil tersebut. Di dalam pesta itu, Paulo juga akan menerima penghargaan dari Guinness Book of Records 2009 sebagai penulis dengan satu buku yang paling banyak diterjemahkan di dunia (The Alchemist, 67 bahasa).

Kami baru saja hendak menitipkan jaket ketika sang penulis besar sendiri keluar dan berdiri di dekat pintu masuk untuk menyambut para tamunya. Ah, sial! batin saya. Andaikata kami ngaret dikit, tangan ini sudah berjabatan dengan salah satu penulis besar abad ini yang hidup dan tulisannya telah begitu banyak menyentuh dan menginspirasi para pembacanya. Mau keluar lagi buat ikut masuk barisan, rasanya konyol. Mau menyela barisan dari depan dan mencuri momen untuk foto bersama, takut membuat macet aliran tamu yang mulai berdatangan dan dipelototi Mr. Coelho dan Monica, sang agen. Apalagi kelakuan norak itu bakal terekam kamera para wartawan TV maupun media cetak yang terus stand by di sana. Alhasil, saya pun cuma bisa menjepret Mr. Coelho dari jarak satu meter (ah, so close and yet so far away!) dan terus menunggu di sana untuk mencari kesempatan nyelak yang tak pernah datang itu…

Akhirnya saya dan Mbak Yanti menyerah dan beranjak masuk. Kami disambut waitress muda dan cantik yang menawarkan wine. Kalau nggak ingat besok harus berseliweran di hall-hall Frankfurt Book Fair, ingin rasanya menerima tawaran si waitress. Kapan lagi dapat kesempatan dugem di Frankfurt? Hehehe. Jadilah kami menenggak (biar keren) Coca Cola sambil menikmati alunan suara merdu penyanyi cantik yang menyanyikan serangkaian lagu berbahasa Inggris dan Spanyol.
Kelab itu tidak terlalu besar. Terdiri atas dua lantai, di lantai bawah terdapat beberapa sofa di sepanjang salah satu sisi dinding, sementara di atas pengunjung hanya bisa berdiri sambil bersandar ke pagar pembatasnya yang terbuat dari kaca. Di atas beberapa meja di tengah ruangan terdapat beberapa booklet berjudul The Winner Stands Alone. Judul yang diambil dari karya terbaru Paulo Coelho (yang menurut info bakal terbit tahun depan), dengan gambar Mr. Coelho yang tampak ceria dalam kaus hitamnya. Di atas kepala terdapat dua layar besar yang terus-menerus menampilkan versi cover The Alchemist dari berbagai negara. Mata tidak boleh terpejam sedetik pun kalau mau menemukan cover versi GPU.

Semua sofa ternyata sudah di-reserved. Saya dan Mbak Yanti harus puas duduk bertengger di dekat undakan pendek menuju sofa-sofa tersebut. Lumayanlah. Setidaknya kami punya jarak pandang yang cukup enak ke panggung. Maklum, dengan tinggi cewek Asia yang tak seberapa, kami nggak bakal bisa melihat panggung kalau kaki menjejak lantai.

Tak lama kemudian Mr. Coelho melangkah masuk dan acara pun dimulai. Dibuka dengan penyerahan penghargaan oleh pihak Guinnes Book of Records, Paulo pun naik ke panggung dan disambut tepuk tangan meriah. Dengan rendah hati beliau menyampaikan bahwa pencapaiannya ini tak bisa disangkal merupakan hasil kerja keras dan kepercayaan Monica, sang agen, yang dua puluh tahun lalu menghampiri Paulo dan bertekad memperkenalkan karya-karya Paulo ke seluruh dunia. Perayaan malam itu pun dipersembahkan Paulo bagi Monica.

Kilatan blitz menyambar-nyambar sepanjang pembukaan acara. Termasuk blitz dari kamera saya, sebelum mendadak ngadat. Ah! Tangan menepuk jidat bibir berucap "bodoh!" Dengan segala kesibukan di Book Fair siang tadi, saya lupa men-charge baterai kamera saya! Pinjam baterai kamera Mbak Yanti ternyata beda bentuk. Mau mengoperasikannya tangan canggung karena tidak terbiasa dengan tombol-tombol yang berlainan. Sial, sial, sial! Lagi-lagi kesempatan mengabadikan peristiwa penting dalam dunia perbukuan ini batal. Bibir sudah maju beberapa senti dari asalnya yang memang tidak terlalu tipis.

Acara berlanjut dengan acara nyanyi-nyanyi. Teman baik Paulo, penyanyi Brazil Gilberto Gil menghangatkan suasana malam itu dengan menyanyikan lagu No Woman, No Cry. Suaranya empuk banget, reggae banget, pokoknya enak banget. Dan serunya, di tengah-tengah lagu, Paulo ikut bernyanyi! Suara penulis (yang belakangan saya baca memang pernah jadi rock star) itu nggak kalah bagusnya. Beberapa orang sudah mulai berjoget. Argh. Makin menyesali kebodohan diri. Kapan lagi, kapan lagi bisa melihat dan mendengar seorang Paulo Coelho bernyanyi secara live?

Tapi duo Paulo-Gilberto tidak membiarkan kekesalan saya berlarut-larut. Ketika musik makin rancak, kaki mulai diketuk-ketukkan ke lantai. Dan ketika mereka mengajak hadirin ikut mendendangkan "Everything's gonna be all right, no woman, no cry…" saya nggak tahan lagi. Badan ikut bergoyang dengan sendirinya dan mulut pun mulai ikut bernyanyi. Tanpa malu-malu seperti biasanya, tapi juga tetap menjaga diri supaya jangan sampai malu-maluin bos yang duduk di samping.
Akhirnya Paulo turun dari panggung dan beranjak bersama rombongannya ke ruang pribadi di kelab itu. Tamu lain masih melanjutkan dengan acara minum-minum dan obrolan santai. Jam 23.30. Saya dan Mbak Yanti tahu diri untuk pulang dan beristirahat, siap-siap untuk sederet appointment keesokan paginya. Kami berjalan keluar kelab dengan jaket tertutup rapat mengingat angin musim gugur yang makin menggigit. Sempat lama menunggu taksi di jalanan yang sangat lengang, tapi kegembiraan bisa ikut serta dalam perayaan Paulo Coelho lumayan membuat hati hangat.

Dan tiap kali pikiran saya mulai berniat menyesali diri lagi, saya langsung menghentikannya. Bagaimanapun juga, bukankah memori otak saya jauh melebihi kapasitas memory card kamera tercanggih sekalipun? Meski nggak ada foto kenang-kenangan saya bersama Paulo Coelho, saya cuma perlu memejamkan mata, maka rekaman suasana malam itu, semua kegembiraan dan kemeriahan malam itu, akan segera terputar kembali. Buktinya malam ini, tepat satu bulan setelah acara itu, saya masih bisa mendengar nyanyian Paulo yang agak-agak parau itu dengan sangat jelas: everything's gonna be all right…

(disebarkan oleh Dharma. November 2008)

Wednesday, November 12, 2008

Pemenang Adikarya Ikapi 2008

Dalam pembukaan Indonesia Book Fair 2008 tgl 12 November 2008 di JCC Senayan, Yayasan Adikarya IKAPI memberi penghargaan kepada buku-buku anak dan remaja. Dari 219 judul yang dikirimkan 22 penerbit, ketua juri yang dipimpin Djoko Lelono memutuskan pemenangnya sebagai berikut:

Kategori Buku Cerita Anak:

1. Bocah-bocah di Pagar karya Yuli Anita Bezari (Dar! Mizan)
2. Jojo Kucing Tinggal Di Mana? karya Koen Setyawan (Gramedia Pustaka Utama)
3. Jangan Bilang Siapa-siapa karya Clara Ng (Gramedia Pustaka Utama)

Kategori Buku Cerita Remaja:

1. 100 Jam karya Amalia Suryani dan Andryan Suhardi (Gramedia Pustaka Utama)
2. Guruku Culun Sekali karya Galang L. (Femmeline / Grup Syaamil)
3. Love For Show karya Andi Eriawan (Gagas Media)

Ilustrator Buku Anak:

1. Iwan Darmawan pada Jojo Kucing Pakai Apa? (Gramedia Pustaka Utama)
2. Yudianto Rahardjo pada Apakah Kamu Bangau? (Gramedia Pustaka Utama)
3. Sutarjo pada Dalam Perut Ikan Paus (Remaja Rosdakarya)

Selamat kepada para pemenang Adikarya Ikapi tahun 2008 ini. Sampai bertemu tahun depan ya. :)

(disebarkan oleh Hetih)


Tuesday, October 14, 2008

Paulo Coelho di Frankfurt Book Fair 2008

Pada zaman serbamodern ini, Internet telah menjadi sarana informasi, berbagi gagasan, dan berpromosi yang luar biasa. Penulis Brazil, Paulo Coelho, juga tidak ketinggalan menggunakan Internet sebagai sarana untuk merangkul lebih banyak pembaca di seluruh dunia. Berikut ini pidatonya dalam pembukaan Frankfurt Book Fair 2008 mengenai peran Internet dalam industri-industri budaya. Bacalah, sebab sungguh menyenangkan mengetahui bahwa Coelho, yang sudah berumur 61 tahun, bisa menguasai dan tidak asing dengan MySpace, blogging, dan Internet. Jadi, tidak ada alasan bagi generasi yang lebih muda untuk tidak mencobanya juga.

PENULIS SEBAGAI BINTANG POP

Beberapa bulan yang lalu saya menonton film Giordano Bruno, kisah seorang “heretic” yang dikutuk Vatican dan dihukum mati dengan dibakar pada tahun 1600 karena keyakinan-keyakinannya. Ada alasannya mengapa saya menyebutkan hal ini: di dalam film tersebut ada bagian di mana Giordano Bruno mengatakan dia baru saja mengunjungi Frankfurt Book Fair untuk bertemu dengan beberapa penerbit karyanya. Dan sekarang, empat abad kemudian, kita semua berada di sini, bukan hanya untuk bertemu para penerbit, tetapi juga untuk membahas tentang berbagai kecenderungan baru.

Antara kunjungan Giordano Bruno pada masa itu dan pagi ini, berbagai media baru untuk berbagi gagasan telah banyak bermunculan. Frankfurt Book Fair yang pertama, misalnya, merupakan hasil dari suatu penemuan baru, yakni mesin cetak jenis movable. Ketika Gutenberg menciptakan mesin ini di Mainz, hanya beberapa kilometer dari sini, para penjual buku setempat terinspirasi untuk menyelenggarakan pameran buku ini. Kita semua tahu, penemuan Gutenberg merupakan langkah besar---barangkali yang paling penting---menuju terciptanya gerakan Renaisans, di mana berbagai gagasan bisa disebarluaskan secara lebih bebas. Berkat proses pencetakan baru ini, berbagai gagasan dapat dibagi dan dunia dapat dibentuk kembali menurut gagasan-gagasan ini.

Berlawanan dengan media-media lainnya, misalnya tarian, atau lukisan, atau teater, di mana si penciptanya perlu hadir secara fisik, buku---dan kelak, media cetak---dengan segera mulai mendominasi cara-cara lain yang sudah ada untuk berbagi gagasan, sebab buku bisa diproduksi dalam skala industri. Buku, sebagai sarana penyampai gagasan, dianggap ideal selama beberapa abad, sampai kemudian monopoli buku mulai tersingkir oleh media lainnya, misalnya radio, bioskop, dan televisi.

Maka, inti bahasan ini adalah tentang berbagi gagasan. Contoh-contoh tadi semuanya menunjuk ke satu hal: bahwa teknologi-teknologi yang bisa berhasil adalah teknologi yang memungkinkan gagasan disebarluaskan dan menyentuh sebanyak mungkin audiensi. Dan selanjutnya, hukum-hukum akan beradaptasi dengan konteks baru ini (bukan sebaliknya!)---konsep hukum copyright berkembang sejalan dengan zaman industri baru ini, di mana biaya-biaya produksi dan distribusi relatif tinggi.

Tetapi selama 10 tahun belakangan ini kita telah melihat kemunculan dan perkembangan Internet, mesin menakjubkan yang menawarkan cara baru untuk berbagi gagasan dan menantang model-model ekonomi lama. Sebagaimana dikatakan Kevin Kelly, editor Wired Magazine, dalam pidato TED-nya pada bulan Desember 2007, mesin baru ini mengumpulkan data yang bisa disetarakan dengan isi Library of Congress setiap dua detiknya.

Tetapi ada perbedaan dengan media-media lain yang datang sebelumnya: Internet tidak melibatkan biaya-biaya produksi dan distribusi. Karena itu, kita melihat terjadinya pergeseran paradigma. Mulai saat ini dan ke depannya nanti, demokratisasi gagasan, yang mula-mulanya dimungkinkan berkat mesin temuan Gutenberg, mulai menyentuh skala yang sama sekali baru. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai memahami bahwa a) mereka bisa menerbitkan apa saja dan memuatnya di Internet untuk dilihat semua orang, dan b) mereka menjadi penyiar diri mereka sendiri, yaitu mereka mempunyai saluran televisi sendiri---misalnya YouTube---atau acara radio mereka sendiri---misalnya BlogTalkRadio. Dengan cara ini, mereka bukan lagi sekadar pennton-penonton pasif atas berbagai transformasi yang terjadi di masyarakat. Mereka ikut ambil bagian dalam prosesnya secara kolektif. Maka, asalkan Anda memiliki sambungan Internet, si makhluk sekarang menjadi si pencipta. Si pengguna menjadi orang yang bukan hanya punya sesuatu untuk diceritakan, tetapi juga bisa berbagi hal-hal yang disukai dan tidak disukainya.

Ada satu elemen penting yang oleh sebagian besar orang tidak disadari: orang-orang saling berbagi apa yang mereka anggap penting secara gratis, dan mereka mengharapkan hal yang sama bisa diterapkan dalam semua sistem komunikasi massa.

Jalur-jalur komunikasi massa yang biasanya, merasa sulit memahami hal ini: “korban” pertama adalah industri musik. Bukannya memahami pentingnya cara baru untuk berbagi, para eksekutif industri musik multinasional justru lebih suka menyewa para pengacara, bukannya menurunkan harga musik. Mereka berhasil menutup Napster pada tahun 2001, serta situs-situs web musik lainnya. Mereka memenangkan pertempurannya, tetapi bukan perangnya. Malahan gerakan ini tidak berhasil mencegah munculnya situs-situs web peer-to-peer yang meneruskan api kebebasan berbagi content. Sekarang coba bayangkan, seandainya mereka tidak mengirim pengacara, melainkan menerapkan gagasan brilian ini: memungut biaya 0.05 sen per lagu? Pada tahun 2000 itu tidak bakal ada yang keberatan, apalagi karena harga tersebut akan jauh lebih murah daripada harga CD biasa. Napster, inovator hebat itu, ditutup pada tahun 2001 dan kelak diambil alih oleh Bertelsmann---tetapi tindakan ini sudah terlambat. Sejak saat itu, situs-situs peer-to-peer bermunculan dan, sampai hari ini, remaja mana pun bisa mengunduh dengan gratis lagu yang mereka inginkan dari situs torrent mana pun yang mereka pilih.

Baru sekarang kita melihat bahwa industri musik mulai belajar dari kesalahan-kesalahannya, dan mulai memperbaiki cara-cara mereka. iTunes, misalnya, sudah memahami keadaan sekarang ini dan mengizinkan para pengguna mengunduh lagu dengan biaya 0.90 sen. Karenanya, iTunes menjadi distributor musik online pertama di dunia. Konsekuensi logis lainnya dari perubahan zaman adalah baru beberapa bulan yang lalu komunitas sosial MySpace menandatangani kerja sama independen dengan Universal Music, Sony BMG, dan Warner Music Group. Mereka menciptakan situs di mana para pengunjung bisa mendengarkan musik streaming dengan gratis, yang dibayar melalui iklan, dan berbagi play list masing-masing dengan teman-teman mereka.

“Korban” Internet yang kedua, tentu saja, adalah industri film---film-film dan serial-serial televisi. Dengan adanya komputer-komputer yang lebih canggih dan bandwidth lebih besar, film-film bisa diunduh, dengan kualitas sangat bagus, ke komputer mana pun dalam beberapa jam saja.

Tetapi industri film juga mulai menemukan cara-cara baru untuk menangani masalah ini. Para produser mengizinkan para pengguna menonton serial-serial televisi di portal-portal bersponsor (misalnya Southpark di situs web Comedy Central). Taktik-taktik lainnya misalkan mengadopsi cara-cara baru mempromosikan film melalui sistem viral marketing (misalnya King Kong atau film Brazil Tropa de Elite) dan menciptakan komunitas-komunitas seputar acara-acara tertentu (misalkan, acara televisi Oprah Winfrey juga mempunyai komunitas di web).

Sebagaimana bisa kita lihat, mulai menghilangnya bentuk-bentuk tradisional musik, serta film (CD, DVD), ditambah lagi dengan sharing instan, memaksa para produser dalam industri-industri ini untuk mencari cara-cara alternatif dalam menciptakan, menjual, dan mempromosikan content mereka.

Selama para produser menolak memberikan tempat bagi golongan yang mereka anggap konsumen pasif---mereka akan kehilangan audiensi.

Lalu bagaimana dengan bisnis penerbitan? Kelihatannya bisnis penerbitan lebih “terlindung” dari kecenderungan-kecenderungan web ini, dibandingkan bisnis musik atau film. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, bisnis penerbitan masih aman sampai sekarang karena, dibandingkan dengan media lainnya, bisnis penerbitan memiliki keuntungan-keuntungan lebih banyak di dalam lingkungan teknologi yang baru ini.

Pertama-tama: biaya-biaya produksi jauh lebih rendah daripada dalam bisnis film atau musik. Kedua, Internet adalah medium yang sangat bergantung pada membaca dan menulis, dan sejak tahun 1990-an kita telah melihat bisnis penerbitan meroket berkat minat yang timbul kembali di masyarakat terhadap bentuk tulisan. Bukan hanya itu, si penulis kembali menjadi katalis terhadap momentum tersebut. Si penulis menjadi bintang pop, sebagaimana halnya para musisi pada tahun 1960-an.

Dan yang lebih penting lagi---kita masih belum melihat buku kehilangan pamornya sebagai sarana penyalur gagasan.

Selama lima belas abad, buku, sebagai suatu bentuk media, telah terbukti belum tertandingi. Memang, e-book perlahan-lahan mulai merebut perhatian, dan mungkin saja suatu saat nanti buku digital akan lebih popular daripada kertas. Tetapi ini masih perlu waktu beberapa tahun lagi, dan memberi kita---para penerbit, penjual buku, dan penulis---momen berharga sebelum dunia Web mulai bergerak.

Tetapi apa yang telah saya lihat sebagai penulis, oleh industri penerbitan ditanggapi dengan terkejut serta kurangnya pemahaman tentang Internet. Bukannya melihat kesempatan untuk menciptakan cara-cara berpromosi yang baru dalam media baru ini, para penerbit justru berfokus pada menciptakan situs-situs mikro yang benar-benar sudah ketinggalan zaman, dan beberapa penerbit mengeluhkan “ketidakberuntungan” industri-industri budaya lainnya, dan menganggap Internet sebagai “musuh”. Barangkali seperti inilah sikap para rahib penyalin terhadap buku-buku cetakan pada abad ke-16.

Namun, berhubung buku sebagai media masih digunakan secara luas, mengapa tidak berbagi keseluruhan isi buku-buku ini secara gratis dalam bentuk digital? Sebab, berlawanan dengan apa yang dikatakan akal sehat kita---dan akal sehat tidak selalu merupakan penasihat yang baik, sebab kalau demikian halnya para penerbit, penjual buku, dan penulis barangkali akan memilih profesi lain yang lebih menguntungkan---semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita menerima.

Saya cukup beruntung karena hal ini terjadi pada buku-buku saya di Rusia, pada tahun 1999.
Waktu itu saya mengalami awal yang sangat sulit di sana. Mengingat jarak yang sangat jauh, buku-buku saya tidak bisa didistribusikan dengan baik dan penjualannya sangat rendah. Akan tetapi, dengan munculnya versi bajakan The Alchemist dalam bentuk digital---yang kelak saya masukkan juga di situs web resmi saya---penjualannya langsung meroket secara luar biasa. Pada tahun pertama, penjualan melonjak dari angka 1.000 ke 10.000. Pada tahun kedua menjadi 100.000, dan pada tahun sesudahnya saya berhasil menjual sejuta buku. Sampai hari ini, angka penjualan telah melewati 10 juta buku di teritori ini.

Pengalaman di Rusia ini mendorong saya untuk menciptakan situs The Pirate Coelho. Menurut Wikipedia, ensiklopedia online gratis, kata “pirate” dalam bahasa Inggris asalnya dari kata pirata dalam bahasa Latin, dan akarnya dari kata peira dalam bahasa Yunani, yang berarti “berusaha, mengalami”, secara implisit “menemukan keberuntungan di laut”. Tentu saja kelak arti asal ini mengalami modifikasi oleh berbagai fakta, tetapi kita semua tahu bahwa setidaknya salah satu kekaisaran terbesar di Bumi patut mengucapkan terima kasih kepada para bajak laut mereka---yang kelak mendapatkan gelar “Sir” dan “Knight”.

The Pirate Coelho bertahan di sana selama tiga tahun, diisi oleh para pembaca dari seluruh dunia, dan tak seorang pun di dunia penerbitan memperhatikannya---karena penjualan buku-buku saya terus meningkat. Tetapi, sejak saat saya mengumumkan hal tersebut pada Konferensi Teknologi di awal tahun ini, saya mulai mendengar beberapa komplain. Tapi pada akhirnya penerbit saya di Amerika Serikat, Harper Collins, misalnya, sepenuhnya memahami kemungkinan-kemungkinan yang ada. Jadi, sebulan sekali, selama tahun 2008, saya memuat salah satu buku saya, seutuhnya, untuk dibaca secara online. Dan dengan gembira saya menyatakan bahwa, bukannya penjualan jadi menurun, The Alchemist, salah satu buku pertama yang bisa dibaca online, pada bulan September sudah setahun penuh masuk dalam daftar buku terlaris NY Times.

Ini menjadi bukti nyata tentang momentum bagi industri kita: gunakan Internet untuk berpromosi, dan akan Anda lihat hasilnya dalam dunia nyata. Setidaknya inilah gagasan di balik situs web Pirate Coelho saya. Saya sekadar mengonversi torrent links semua buku saya untuk diunduh. Khalayak bisa memutuskan sendiri, apakah nanti mereka berminat membeli buku fisiknya. Sejauh ini, cara tersebut bukan saja memungkinkan saya berinteraksi lebih langsung dengan para pembaca saya, tetapi juga telah menstimulasi perkembangan beberapa proyek bersama, misalnya The Experimental Witch.

Dalam Proyek The Experimental Witch, saya mengundang para pembaca untuk mengadaptasi buku saya, The Witch of Portobello, ke dalam bentuk film. Pengalaman ini, diluncurkan tahun lalu atas sponsor HP, MySpace, dan Media Groups (Bertelsmann, Burda, Prisma Presse, O Globo), memperoleh umpan balik yang luar biasa. Para pembuat film dari berbagai penjuru dunia mengunggah kreasi-kreasi mereka di MySpaceTV dan ketika para pemenangnya diumumkan bulan Agustus yang lalu… ada 14 film pendek yang dibuat secara profesional dengan kualitas sangat bagus. Selain itu, buku ini menjadi ramai dibicarakan di Internet, sehingga The Witch of Portobello masuk ke daftar buku terlaris NY Times begitu edisi paperback-nya diterbitkan di Amerika Serikat.

Ini menunjukkan bahwa, bahkan di wilayah yang tidak ramah, misalnya film, di mana biaya-biaya produksi sangatlah tinggi, usaha semacam ini masih dimungkinkan. Ini juga menunjukkan pergeseran besar dalam produksi dan distribusi budaya: interaktivitas. Pembaca bukan lagi sekadar pihak yang menerima secara pasif. Mereka memiliki kesempatan untuk berperan lebih aktif---dan memahami bahwa mereka bisa membuat perbedaan.

Tetapi apakah semuanya hanya sampai di sini? Penting juga dipikirkan tentang masa depan buku, tanpa menjadikannya produk material. Dan saya percaya apa yang muncul pada tahap ini adalah suatu elemen penting lainnya---para pembaca harus dilibatkan. Kita semua mempunyai cerita, kita semua saling berbagi gagasan, para penerbit dan penulis selalu menstimulasi perdebatan berbagai gagasan. Jadi, mengapa tidak melakukannya juga di Internet?

Saya meluncurkan blog di mana saya mengirimkan isi berupa multimedia, dan setiap minggunya saya mengundang para pembaca untuk memberikan pendapat dan menyuarakan kisah-kisah mereka. Saya bahkan mengundang mereka untuk hadir di sini, dalam semangat, bersama-sama kita. Misalnya, saya telah meminta mereka mengirimkan foto-foto diri sambil memegang buku karangan saya yang menjadi favorit mereka, supaya bisa saya pamerkan di pesta saya besok. Pada akhir bulan September sudah lebih dari 600 foto saya terima. Berkat Internet, para pembaca dan penulis bisa menjadi lebih dekat lagi.

Akan tetapi masih ada dua masalah yang perlu ditangani: copyright dan bagaimana industri penerbitan bisa terus bertahan. Saya tidak punya solusinya, tapi saat ini kita dihadapkan pada era baru, jadi kita harus beradaptasi, atau mati. Saya di sini bukan untuk berbagi solusi, melainkan untuk berbagi pengalaman saya sebagai penulis. Memang benar, saya mendapatkan penghasilan dari copyright-copyright buku-buku saya, tetapi saat ini bukan itu yang terutama saya pikirkan. Saya harus beradaptasi. Bukan hanya dengan menjalin hubungan lebih langsung dengan para pembaca saya---hal ini tidak terbayang beberapa tahun yang lalu---tetapi juga dengan mengembangkan bahasa baru, berbasis Internet, yang akan menjadi bahasa masa depan: langsung, sederhana, tanpa membuatnya dangkal. Dengan berjalannya waktu, saya akan belajar bagaimana memperoleh kembali uang yang saya investasikan sendirian di dalam komunitas-komunitas sosial saya. Tetapi saat ini saya berinvestasi dalam sesuatu yang akan membuat setiap penulis di dunia ini merasa bersyukur: membuat tulisan-tulisannya dibaca oleh sebanyak mungkin orang.

Internet telah mengajarkan ini pada saya: jangan takut berbagi gagasan. Jangan takut mengajak orang-orang lain menyuarakan gagasan-gagasan mereka. Dan yang lebih penting lagi, jangan menentukan siapa yang pencipta dan siapa yang bukan---sebab kita semua pencipta.

Sebagai ilustrasi atas apa yang disampaikan dalam pidato ini, saya akan memuat keseluruhan teks ini di dalam blog saya---begitu saya selesai berpidato. Webmaster saya tinggal ditelepon saja untuk menerima lampu hijaunya. Pers tradisional tidak dapat meliput selengkapnya apa yang berlangsung di sini, sementara Internet menyediakan kemungkinan untuk berbagi gagasan dengan sesungguhnya, tanpa terikat agenda-agenda dari luar.

Namun ada yang ironis di balik semua ini: Giordano Bruno dijatuhi hukuman karena menyuarakan gagasan-gagasannya. Dalam dunia masa kini: Anda justru akan dihukum kalau tidak menyuarakan gagasan-gagasan Anda.

Terima kasih.

(disebarkan oleh Tanti. Oktober 2008)

Pesta Paulo Coelho di Frankfurt Book Fair

Memperingati 100 juta kopi penjualan buku-buku Paulo Coelho di seluruh dunia, penulis dari Brazil Paulo Coelho mengadakan pesta di perhelatan Frankfurt Book Fair pada tanggal 15 Oktober di Kelab King Kamehameha di Frankfurt. Pesta tersebut akan dihadiri para jurnalis, penerbit, dan sahabat-sahabat dari berbagai latar belakang budaya dan industri penerbitan buku, termasuk penyanyi Brazil Gilberto Gil dan Menteri Kebudayaan Brazil, João Luiz Silva Ferreira.

Dalam pesta tersebut, Paulo Coelho akan dianugerahi penghargaan dari Guinness World Record sebagai penulis dengan satu karya yang sama yang paling banyak diterjemahkan (The Alchemist, 67 bahasa) dan sang penulis akan membacakan cuplikan dari novel terbarunya The Winner Stands Alone. Foto-foto para pembacanya yang telah dikirim ke http://paolocoelhoblog.com/virtual-exhibition/ akan dipertunjukkan sepanjang pesta berlangsung, disponsori oleh Mercedes-Benz.

Paulo Coelho juga akan menjadi pembicara tamu dalam konferensi pers saat pembukaan Frankfurt Book Fair. Konferensi pers tersebut akan berlangsung di tempat pameran pada hari Selasa, 14 Oktober mulai jam 11.00-12.00 dengan dihadiri 300-400 jurnalis dari seluruh penjuru dunia.

Selama berlangsungnya konferensi pers, Paulo Coelho akan berbagi pengalamannya sebagai penulis dalam kaitannya dengan Internet dan Media Sosial, proyek audiovisualnya Experimental Witch, dan bagaimana Internet telah membawa perubahan pada peran tradisional penulis, penerbit, penjual buku, pembaca, kritikus, agen, maupun pustakawan.

(disebarkan oleh Dharma, 2008)