Tuesday, October 28, 2008

Pengarang Baik Hati

Punya pekerjaan jadi sekretaris di perusahaan penerbitan membuat saya menemui manusia dalam berbagai edisi. Kebanyakan pengarang, yang mau menerbitkan karyanya di tempat saya bekerja.

Sejarah membuktikan bahwa pada saat mereka menyerahkan naskah, mereka datang dengan cukup sopan, baik, rendah hati. Ada yang optimis, ada yang pesimis. Tapi dengan berjalannya waktu dan lamanya naskahnya belum selesai dibaca editor, keluar deh sifat-sifat aslinya. Mulai jutek, nggak sabaran. Bahkan ada yang pernah ngasih nasihat, "Mbak, coba deh tim editornya ditambah, biar kita-kita yang pengarang ini nggak terlalu lama digantungin."

Memang sih, pengarang pasti nggak sabar nunggu naskahnya selesai dibaca. Tapi yah, naskah yang masuk tiap tahun semakin banyak. Untuk perbandingan, waktu saya baru masuk GPU,
cuma 300-an judul yang masuk dalam satu tahun (2004). Sementara tahun ini, baru sampai bulan Oktober saja sudah 900 judul naskah yang masuk meja redaksi. Belum lagi kalo ada lomba. Seperti yang baru aja lewat, lomba cerita konyol remaja. Kami terus memperbaiki diri, kok. Semoga ke depannya proses seleksi naskah ini bisa lebih cepat lagi.

Tapi, ada beberapa juga makhluk langka yang dinamakan pengarang yang baik. Biasanya mereka mengerti kalo naskahnya musti ngantre dulu, jadi butuh waktu minimal 3 bulan buat dinilai. Kalo nelepon saya untuk konfirmasi naskahnya, tidak pernah mereka bicara dengan nada yang tinggi, selalu sopan dan tahu aturan, seperti layaknya menelepon ke sebuah instansi. Sayangnya di dalam rimba kepenulisan, mereka termasuk edisi langka. Kaum minoritas. Hampir punah. Jadi, kalo di antara 200 pengarang saya nemuin satu yang seperti itu, langsung pengin dikasih air keras, biar tetap awet.

(Disebarkan oleh Michelle, Oktober 2008)

Sunday, October 26, 2008

Lomba Resensi Online Novel Grafis

Menyambut terbitnya dua novel grafis terbitan Gramedia Pustaka Utama pada bulan Oktober ini, Chicken with Plum dan Che. Lomba resensi online bulan ini adalah novel grafis terbitan Gramedia Pustaka Utama. Berikut ini judul-judul yang bisa dipilih untuk diresensi:

Chicken With Plums - Marjane Satrapi
Embroideries - Marjane Satrapi
Che - Spain Rodriguez
White Lama - Bees, Jodorowsky
History of Violence - John Wagner
Epileptik - David B.
Seri Age of Bronze: Seribu Kapal dan Pengorbanan - Eric Shanower
Seri Usagi Yojimbo - Stan Sakai
V for Vendetta - Alan Moore
Balada Seorang Penyiar - Marc Males
Love Me Better - Rosalind B. Penfold

Cara ikut lombanya?
Gampang banget!
Buat resensinya, lalu pasang di blog. Boleh salah satu atau beberapa judul sekaligus. Makin banyak, makin oke.

Nah kalau udah dipost, kirim link blog tersebut sekalian resensinya ke email: hetih@gramedia.com dan tanti@gramedia.com dengan subjek e-mail: Review Novel Grafis.
Jangan lupa pasang juga link resensinya di komen postingan ini.

Nanti akan dipilih 3 orang yg akan mendapat hadiah paket buku GPU @Rp250.000,-.

Oya, deadline posting di blog s/d tgl 30 November 2008.
Jadi, buruan baca bukunya dan tulis reviewnya... sekarang juga!

(Disebarkan oleh Hetih. Oktober 2008)

Secuil Cerita Tentang Twilight Saga

Nggak seperti kebanyakan orang, buku pertama dalam Twilight Saga yang aku baca justru buku kedua. Ngebacanya juga tidak dengan sengaja, tapi karena Mbak Rosi ngasih tugas untuk bacaproof New Moon. Meskipun awalnya rada keder karena itu buku tebal banget, akhirnya aku malah nggak bisa berhenti baca, pengin cepet-cepet sampe ke halaman paling akhir. Jadi, akhirnya gue malah harus berterima kasih karena dikasih tugas yang sangat menyenangkan ;-)

Banyak orang bilang anak-anak muda zaman sekarang, terutama remajanya, nggak suka baca buku. Kalian setuju? Nggak dong, ya? Fenomena yang akhir-akhir ini terjadi, buku-buku remaja juga berhasil mencapai angka penjualan fantastis. Salah satu contohnya ya Twilight Saga ini.

Semuanya dimulai bulan Oktober 2005 ketika Little, Brown and Co. di Amrik sana menerbitkan novel pertama karya Stephenie Meyer yang berjudul Twilight. Dan cuma dalam waktu satu bulan, Twilight berhasil masuk dalam daftar New York Times Best Seller List untuk kategori young adult.

Selain dari New York Times, buku ini juga dilabeli Amazon.com sebagai “Best Book of the Decade… So Far”. Kira-kira dua bulan lalu, waktu aku browsing ke situs Amazon, sudah ada 1.675 orang yang menulis review buku ini, dan 1.331 di antaranya ngasih rating 5 bintang. Menariknya, orang-orang yang membuat review atau ngomongin buku ini di berbagai forum nggak cuma remaja, tapi ada ibu-ibu, bahkan nenek-nenek. Lumayan, dong? Maksudnya lumayan bikin penasaran, terutama buat kalian yang belum baca...

Saking cintanya sama buku ini, para fans menyebut diri mereka sebagai Twilighters. Bahkan penduduk kota Forks, kota yang sungguhan ada di negara bagian Washington, bikin hari khusus buat Stephenie Meyer. Sekarang ini, film layar lebar Twilight juga sedang dalam tahap akhir produksi. Menurut gosip-gosip yang beredar di internet filmnya bakal rilis bulan November/Desember 2008.

Karena kena virus New Moon, aku coba meng-google frasa “Twilight, Stephenie Meyer”, dan menghasilkan jutaan entri, mulai dari situs resmiTwilight, forum-forum diskusi, sampai puluhan YouTube personal yang menyediakan trailer film Twilight. Bahkan MTV juga menyediakan trailer ini di halaman depan situsnya.

Dan ternyata, Twilight nggak cuma disukai publik remaja di Amerika. Sekarang, Twilight sudah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa, termasuk Indonesia. Waktu aku coba browsing ke forum-forum diskusi dan blog orang Indonesia, udah ada buzz yang cukup seru tentang Twilight Saga di kalangan netters Indonesia.

Gimana sih cerita novel ini?

Dengan buzz sebesar itu, kalian pasti nanya, emang gimana sih ceritanya? Kalo kalian mau tahu ringkasan cerita lengkapnya, mendingan klik artikel yang dibuat Mbak Michelle deh.

Buat gue, di balik kisah cinta Bella-Edward yang pastinya bikin banyak cewek terpesona (not me! I vote for Jacob!=)), Stephenie Meyer menceritakan hal yang universal banget, yang dialami hampir tiap remaja meski dengan tingkat beda-beda. Tiap orang pasti pernah melalui masa-masa ketika mereka merasa bingung, pengin banget mencari jalan sendiri, tapi juga sekaligus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan. Atau ketika mereka jadi makin dewasa dan harus belajar bahwa tiap pilihan pasti punya konsekuensi, seperti Bella yang harus mikir seberapa banyak dia rela berkorban untuk bisa bareng terus sama Edward. Atau mungkin seberapa rela dia ngelepas Edward buat mendapatkan hal-hal lain? (Ha... ha... ha... I wish!)

Selain ceritanya, aku pikir pasti menarik juga untuk mikirin judul yang dipakai Meyer buat keempat bukunya. Dimulai dari Twilight, kata yang kira-kira menggambarkan senja ketika matahari udah terbenam dan suasana mulai gelap. Terus dilanjutkan dengan New Moon, suasana malam ketika lagi ada bulan baru. Masih inget dong pelajaran SD bahwa waktu bulan baru tuh bagian bulan yang keliatan dari bumi baru sedikit? Dilanjutkan sama Eclipse (gerhana) ketika betul-betul nggak ada cahaya di langit. Dan saga ini diakhiri dengan buku berjudul Breaking Dawn, saat-saat ketika fajar mulai menyingsing. Jadi pertanyaannya, di pikiran gue nih, pencerahan seperti apa yang bakal didapat Bella di akhir cerita, ya?

Dan pemikiran ini membuat gue nggak sabar nunggu-nunggu Breaking Dawn. Soalnya, kalau cuma berhenti di Eclipse, berarti aku akan tetap berada di kegelapan...:p Bagaimana konflik utama nantinya akan diselesaikan dan pencerahan seperti apa yang bakal didapat Bella memang tergantung sepenuhnya pada Meyer. Makanya, see you all in Breaking Dawn!

(Disebarkan oleh Nina. Oktober 2008)

Wednesday, October 22, 2008

Tintin di Tibet


Buku berjudul asli Tintin au Tibet ini terbit pada tahun 1960, merupakan buku ke-20 dalam serial Petualangan Tintin. Kisahnya tentang usaha Tintin menemukan teman lamanya Zhang yang menjadi korban akibat pesawatnya jatuh di Tibet.

Ketika menulis kisah ini, Hergé sedang menghadapi berbagai masalah. Pernikahannya yang sudah berusia dua puluh enam tahun dengan Germaine Kieckens goyah. Ia juga terus-menerus dituntut untuk memproduksi Tintin. Karena itulah ia diganggu mimpi buruk yang sering berisi hal-hal serbaputih.

Inilah yang kemudian muncul dalam Tintin di Tibet: hamparan salju di Himalaya. Kisah ini juga memuat keyakinan Hergé tentang persahabatan, baik antara Tintin dan Zhang, Haddock dan Tintin atau, yang paling menyentuh, antara yeti dan Zhang.

Tintin di Tibet bisa dibilang semacam terapi penyembuhan bagi Hergé, karena ketika ia selesai membuatnya, mimpi-mimpinya yang serbaputih pun menghilang. Ia juga telah bercerai dari Germaine dan memulai hidup baru bersama Fanny Vlaminck, seniman muda yang bekerja di studio Hergé. Hebatnya efek kisah petualangan di Tibet ini membuat Hergé menganggap kisah Tintin ini sebagai favoritnya.

Tadinya Hergé berniat menulis tentang Indian lagi, karena merasa masih banyak yang perlu ditulis tentang suku Indian, meski ia cukup berhasil mengungkapkan banyak eksploitasi yang dialami suku itu dalam Tintin di Amerika. Namun ia lantas memutuskan menulis tentang tempat yang sama sekali baru tapi tetap berhubungan dengan masa lalunya, yaitu teman lamanya: Chang, pematung muda dari China yang belajar di Belgia. Hergé kehilangan kontak dengannya karena kekacauan akibat invasi China ke Jepang, Perang Dunia, dan revolusi komunis. Baru pada tahun 1975 ia berhasil melacak Chang, yang pada tahun 1981 kembali ke Brussels dan akhirnya menetap di Paris.

Dalam kisah yang sangat personal bagi Hergé ini, ia juga menghadirkan dua hal yang diminatinya: indra keenam dan mistik dalam Buddhisme Tibet. Seperti yang kita ketahui, Tintin bermimpi tentang Zhang yang terluka di tengah salju dan meminta pertolongannya. Karena mimpi inilah Tintin berangkat ke Nepal biarpun semua orang bersikap skeptis karena tipis sekali harapan ada korban pesawat jatuh itu yang masih hidup.

Masalah indra keenam ini lantas menyatu dengan mistik ketika salah satu pendeta Buddha di Tibet yang bernama Kilat Terang tahu-tahu melayang dan melihat visi tentang Tintin dan teman-temannya yang dalam bahaya besar karena terkubur salju longsor.

Sedangkan tentang yeti, Hergé bisa dibilang menampilkan fenomena yang melanda masyarakat pada akhir tahun 1950an. Koran-koran dipenuhi laporan tentang munculnya yeti, jejak kaki misterius (seperti yang tampak di cover buku ini), dan berbagai penjelasannya. Hergé menggambarkan yeti sebagai makhluk yang memiliki banyak sifat manusiawi. Yeti merawat Zhang yang terluka dan menyayangi anak itu sehingga ia melolong sedih ketika Zhang dan rombongannya meninggalkan Tibet.

Salah satu hal yang paling mengagumkan dalam buku ini adalah keakuratan Hergé dalam menggambarkan banyak hal di dalamnya. Ini tidaklah mengherankan, karena Hergé menggunakan banyak referensi, misalnya buku-buku karya Alexandra David-Neel, ahli tentang Tibet. Kemah yang didirikan sherpa Tharkey, deskripsi tentang tsampa (makanan Tibet), tugu chorten, chang (bir sangat keras khas Tibet), juga tradisi penyambutan tamu kehormatan berupa pemberian syal sutra, semua itu dibuat Hergé berdasarkan buku-buku David-Neel.

Referensi Hergé yang lain adalah majalah National Geographic. Banyak lanskap dalam panel Tintin di Tibet yang dibuatnya berdasarkan foto-foto di majalah itu. Misalnya gua salju tempat Zhang berlindung dan prosesi para lama, lengkap dengan atribut dan alat musik mereka. Kehebatan Hergé soal lanskap bisa kita lihat pada tiga panel yang secara berurutan menggambarkan satu pemandangan pegunungan sehingga kita bisa membayangkan luasnya.

Akhirnya, Tintin di Tibet bukan hanya merupakan karya yang luar biasa karena latar belakang kehidupan pribadi Hergé ketika menulisnya, tapi juga karena menunjukkan keprihatinan Hergé tentang nasib negeri itu yang diekspansi China pada tahun 1950-an. Pada tahun 2001, Hergé Foundation mendesak penarikan edisi bahasa China buku ini, yang diterbitkan dengan judul Tintin in China's Tibet. Buku ini kemudian diterbitkan kembali dengan terjemahan judul yang benar. Pada 1 Juni 2006, Tintin menjadi tokoh fiktif pertama yang dianugrahi penghargaan Truth of Light oleh Dalai Lama. Edisi bahasa Tibet buku ini diterbitkan Casterman pada tahun 1994.

Sumber:
-Tintin The Complete Companion (Michael Farr)
-Wikipedia

(Disebarkan oleh Dini. Oktober 2008)

Laika, Anjing yang Terbang di Antara Bintang-Bintang

Selain kucing dan kuda, anjing menjadi binatang yang paling banyak diabadikan dalam literatur. Tidak mengherankan, sebab sejak awal mula peradaban, anjing telah berinteraksi dengan manusia, sebagai binatang kesayangan, pekerja, pelindung, maupun bahan eksperimen. Dalam literatur, kita banyak menjumpai tokoh anjing, baik sebagai musuh ataupun sahabat. Dalam serial Lima Sekawan, ada Timmy yang sangat sayang pada George; Tintin mempunyai Snowy yang lucu dan cerdas; Nicholas Sparks mengisahkan tentang Singer, anjing Great Dane yang setia sampai mati pada majikannya dalam The Guardian; Kate DiCamillo menuturkan kisah mengharukan dalam Because of Winn-Dixie; juga ada Squirrel yang merindukan rumah yang hangat dalam A Dog’s Life karya Ann M. Martin.

Dan sekarang giliran Laika diabadikan dalam bentuk novel grafis. Laika adalah anjing kecil telantar yang diambil dari jalanan di Moscow, untuk diikutsertakan sebagai binatang percobaan dalam program Sputnik 2, pada tanggal 3 November 1957.


Novel grafis ini dibuka dengan pemandangan padang salju di Rusia, dan seorang pria bernama Korolev. Delapan belas tahun kemudian, dia menjadi Chief Designer Sputnik. Kesuksesan peluncuran Sputnik membuat Perdana Menteri Nikita Khrushchev menuntut peluncuran kendaraan orbital kedua. Tenggat waktu yang diberikan hanya satu bulan… dan kali ini harus membawa makhluk hidup di dalamnya. Pada masa itu, Amerika dan Rusia yang terlibat perang dingin, saling berlomba menjadi yang pertama dan paling unggul dalam proyek antariksa mereka. Sebelum mengirim manusia ke angkasa luar, binatanglah yang lebih dulu dikirim. Amerika menggunakan simpanse, sementara Rusia menggunakan anjing. Yang dipilih anjing-anjing jalanan, dengan asumsi mereka sudah terbiasa menghadapi kondisi hidup yang berat, sehingga akan lebih tangguh ketika menjalani eksperimen-eksperimen. Laika terpilih karena di antara calon-calon lainnya, dialah yang paling manis sifatnya, dan paling sabar menjalani apa pun. Eksperimen ini mengukir jalan bagi pengiriman manusia ke angkasa luar. Namun kebenaran tentang peristiwa sesungguhnya yang terjadi atas Laika baru berpuluh tahun kemudian diungkapkan. Setelah keruntuhan rezim Soviet, pada tahun 1998, Oleg Gazenko, salah satu ilmuwan yang terlibat dalam eksperimen tersebut, menyatakan penyesalannya atas apa yang terjadi. Dan pada tanggal 11 April 2008, sebuah monumen untuk mengenang Laika diresmikan di Moscow.

Laika bukan sekadar kisah tentang anjing. Berbagai unsur berbaur di dalamnya. Ada unsur politik, penelitian-penelitian ruang angkasa, interaksi antara manusia dengan hewan-hewan yang terlibat dalam program Sputnik 2, dan hal-hal yang dilakukan manusia atas nama ilmu pengetahuan dan kemajuan. Banyak pula momen inspiratif serta mengharukan untuk mengimbangi kisah tragis yang tak terelakkan ini. Nick Abadzis, penulis sekaligus ilustrator Laika, melakukan riset mendalam sebelum memulai proyek Laika. Nick khusus datang ke Moscow untuk mencari informasi tentang para insinyur, teknisi, dan dokter-dokter yang selama ini tidak ditonjolkan oleh rezim Soviet, dan terutama tentang Korolev, Chief Engineer yang merancang Sputnik 1 dan 2. Rumah Korolev di Rusia telah dijadikan museum dan dari sanalah Nick mengumpulkan kesan-kesan tentang kepribadian Korolev serta orang-orang yang bekerja bersamanya. Kunjungan ke Moscow itu juga digunakannya untuk mendapatkan rasa tentang negeri itu, budayanya, serta orang-orangnya.

Tidak perlu menjadi pencinta anjing untuk bisa merasa tersentuh dengan kisah ini. Laika adalah bacaan untuk setiap orang.

(disebarkan oleh Tanti, Oktober 2008)