Sunday, December 14, 2008

Lomba Resensi Online Akhir Tahun 2008

Akhir tahun 2008 segera tiba. Berbagai gagasan dan resolusi untuk tahun baru muncul, hm, mau baca buku apa ya tahun depan? Untuk bulan Desember ini, GPU mengadakan lomba resensi online yang asyik banget buat para pecinta buku. Kali ini hadiahnya paket buku @Rp300.000,- untuk tiga pemenang. Caranya gampang banget. Kirimkan resensi, link beserta resensi online buku GPU yang menurutmu paling menggugah, paling menyentuh hati, paling disukai, pokoknya buku GPU paling oke punya deh sepanjang tahun 2008.

Kalau masih ada buku GPU paling oke yang belum dibuat resensinya, tenang aja, masih ada waktu untuk menguploadnya ke blog atau wesbite karena batas waktu lomba resensi ini sampai 15 Januari 2009.

Oya, maksimal resensinya 3 buku. Biar jurinya nggak keder bacanya.
Kirimkan link dan resensinya via e-mail ke hetih@gramedia.com dan nung@gramedia.com. Atau silakan memasang linknya di komen postingan ini. Biar lebih afdol.

Keputusan juri mutlak dan tidak diadakan surat-menyurat.

(Disebarkan oleh Hetih. Desember 2008)

Friday, December 12, 2008

Sedikit Fakta Tentang Bangsawan & Tips Menjadi Lady ala Historical Romance

Bulan Oktober 2008 GPU menerbitkan novel historical romance karangan Lisa Kleypas, Rahasia Malam Musim Panas. Nah, tanggal 23 Desember, buku lanjutannya akan muncul. Judulnya? Suatu Hari Di Musim Gugur (It Happened One Autumn).

Pemeran utamanya kali ini Lillian Bowman, putri OKB (Orang Kaya Baru) dari Amerika dan Marcus, Earl of Westcliff.

Berbeda dengan buku pertama, di sini kita diperkenalkan lebih jauh dengan tata cara dan adat kebangsawanan Inggris.

Sedikit fakta tentang tata cara kebangsawanan Inggris:

  • Tidaklah sopan untuk memanggil seseorang dengan nama kecilnya. Bahkan seorang istri pun kalau mau memanggil suaminya di depan umum harus memanggilnya dengan sebutan gelarnya. Misalnya, Annabelle memanggil suaminya dengan Mr. Hunt, bukan Simon. Ibu Marcus memanggil putranya dengan My Lord, bukan dengan nama kecilnya.
  • Tidaklah baik bagi seorang wanita lajang untuk menghabiskan waktu berduaan bersama pria tanpa kehadiran pendamping. Reputasi wanita itu bisa tercemar, dan pria bakal enggan menikahinya.
  • Secara status, Viscount (anak laki-laki Duke) berada di bawah Earl. Tapi ketika Duke mangkat, dan Viscount mendapat gelar Duke, maka statusnya berada di atas Earl. Makanya Lord St. Vincent sekarang masih berada di bawah Earl of Westcliff. Tapi kalau ayahnya mangkat, Lord St. Vincent akan menjadi Duke, dan Earl of Westcliff akan berada di bawah St. Vincent.
  • Hanya duke/duchess yang boleh dipanggil Your Grace. Bangsawan lain hanya boleh dipanggil dengan sebutan Lord/Lady.
  • Kalau pasangan Duke disebut Duchess, pasangan Earl disebut Countess. Nah, saat Earl senior mangkat, gelarnya diwariskan kepada anak laki-lakinya. Kalau saat itu si anak laki-laki belum menikah, maka yang menjadi Countess tetaplah ibunya. Tapi ketika sang earl menikah, maka ibunya akan menjadi Dowager Countess, dan istrinyalah yang menjadi Countess. Buat lebih gampangnya, dowager itu istilah keren bangsawan buat “janda”. Dan yang boleh disebut dowager adalah mereka yang almarhum suaminya bergelar, dan pewaris gelar saat ini adalah keturunan langsung almarhum suaminya. Jadi selain buat ibu, dowager bisa juga digunakan untuk ibu tiri, nenek, dan janda pemangku gelar sebelumnya.
Jadi nih, begitu Lillian menjadi istri Marcus, Lillian-lah yang menjadi Countess of Westcliff, sementara ibu Marcus menjadi Dowager Countess.


Nah, semoga sekarang nggak bingung lagi kalau baca novel Historical Romance ya.

Sebagai penutup, berikut ada tips menjadi lady dari Countess of Westcliff, ibu Marcus. Silakan disimak:

1. Seorang lady tidak pernah membiarkan tulang punggungnya menyentuh sandaran kursi. Dia harus duduk tegak.

2. Saat perkenalan:
- Jika perkenalan terjadi antara dua wanita muda, seorang lady boleh berjabatan tangan.
- Jika perkenalan terjadi antara pria dan wanita, sang lady harus menunggu sampai si pria menghampirinya, lalu membungkukkan badan sedikit, tapi tidak boleh berjabatan tangan.

3. Seorang lady tidak boleh membungkuk kepada pria yang tidak diperkenalkan padanya meskipun ia sudah sering melihat, bertemu, atau bercakap-cakap dengan pria itu. Kalau perkenalan resmi belum terjadi, seorang lady hanya perlu mengangguk singkat. Sekalipun pria itu sudah menolongnya, selama sang lady belum diperkenalkan secara resmi, dia hanya boleh mengangguk dan mengucapkan terima kasih, tanpa membungkukkan badan.

4. Seorang lady tidak boleh meminta menambah anggur saat makan malam. Hanya tamu pria yang boleh minta tambah minum anggur, tamu wanita tidak boleh.

5. Makanan penutup dan kudapan kecil hanya boleh dimakan menggunakan garpu, bukan sendok, dan tidak boleh dibantu pisau.

6. Seorang lady tidak boleh mengungkapkan isi pikirannya sendiri. Sekalipun ditanya, dia hanya boleh mengulang apa yang dikatakan pria.

7. Seorang lady tidak boleh mengumpat. Tidak boleh berbicara, apalagi tertawa dengan suara lantang. Dan jelas tidak boleh membersit hidung keras-keras seperti gajah bersin.

8. Seorang lady tidak boleh berterima kasih pada pelayan. Seperti kata Countess, “Kau tidak perlu berterima kasih kepada pelayan sama seperti kau tidak perlu berterima kasih kepada kuda karena membiarkanmu menungganginya, atau meja karena sudah menampung piring yang diletakkan di atasnya.”

9. Seorang lady tidak boleh menyebut anggota tubuhnya pada lawan jenis. Bilang “perut” pun tabu lho!

10. Seorang lady tidak boleh terlibat akitvitas fisik di luar ruangan seperti memainkan permainan rounders (semacam permainan kasti), apalagi berlari-lari dalam pakaian dalam dengan alasan susah berlari sambil memakai rok!

So, how lady are you? :)

(Disebarkan oleh Dharma. Desember 2008)

Tuesday, December 9, 2008

Mau Jadi Penulis? Jadilah Pembaca

Minggu lalu seorang sahabat saya menyatakan dia ingin menulis buku. Tentu saja saya sambut baik keinginan itu, siapa tahu cocok, saya bisa merekomendasikan buku karyanya itu ke kantor, lalu terbit, dan terjadilah yang namanya win-win situation—semua senang.

Maka kami membahas buku yang ingin dia tulis tersebut, yang adalah buku kumpulan resep. Dalam bayangannya, dia ingin membuat buku hard cover ukuran besar, dan memuat sekitar 100 resep. Tapi dia ingin menujukan buku tersebut bagi ibu-ibu muda yang baru menikah dan belajar masak.

Waduh, saya langsung menebak bahwa sahabat saya ini kurang mengenal target market-nya. Sekarang bayangkan dulu buku hard cover berukuran besar yang luks, isinya 100 resep sehingga tentu cukup tebal. Bayangkan harganya. Saya taksir harganya mungkin sekitar Rp100.000.

Setelahnya bayangkan ibu muda yang baru belajar masak. Buku macam apa yang akan dia beli? Mungkin buku tipis yang bisa dilipat dan dibawa ke dapurnya untuk disandarkan di dinding, tempat dia bisa membaca langkah demi langkah memasak yang harus dia lakukan. Mungkin buku yang spesifik membahas jenis masakan tertentu seperti masakan sayuran, masakan ayam, atau masakan sea food. Dan karena dia ibu muda yang mungkin baru menikah dan mungkin keuangan keluarganya belum stabil, maka saya rasa dia akan memilih membeli buku masak yang range harganya sekitar Rp15.000-30.000.

Sekarang apa hubungannya ilustrasi ini dengan judul posting di atas? Kembali ke pemikiran saya bahwa sahabat saya itu tidak mengenal target market-nya. Menurut saya, setiap pengarang harus mengerti target tulisannya. Pengarang novel remaja mesti mengenal dunia remaja. Pengarang novel percintaan harus kenal dunia ibu-ibu atau perempuan dewasa muda yang banyak membeli jenis novel begitu. Pengarang travel writings harus tahu kesukaan para backpacker. Dan sebagainya.

Sebelum mulai menulis, sebaiknya seorang penulis menempatkan diri atau membayangkan dirinya menjadi pembaca buku yang akan ditulisnya itu. Atau okelah, kalau terlalu lama membayang-bayangkan nanti ide tulisannya lenyap. Jadi, oke, buatlah dulu tulisan itu. Tumpahkanlah dulu semua keluar. Setelahnya, sebelum minta pendapat orang terdekat (bukankah pembaca pertama selalu orang-orang terdekat?), coba bayangkan diri kamu jadi pembacanya. Bukan sebagai diri kamu—kamu harus keluar dari diri kamu, harus jadi orang lain (karena pengarang kadang tidak bisa melihat lubang-lubang pada tulisannya sendiri). Bayangkan diri kamu ada di toko buku dan melihat buku karya kamu itu sudah terbit dan dipajang di rak. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan mengambilnya? Membaca sinopsisnya? Atau... melewatinya begitu saja?

Kalau kira-kira yang terjadi yang terakhir, waks! Pahitnya, lebih baik kamu simpan saja naskah itu. Tapi yang lumayan asem saja, yah, kamu jadi bisa melontarkan pertanyaan, kenapa kira-kira naskah itu jadi naskah yang dilewati? Dari situ mungkin kamu bisa memperbaikinya.

Dari sudut pandang pembaca/pembeli buku, kamu bisa mendapat poin-poin penting bagi naskah kamu. Kamu bisa menelaah ulang apakah tema yang kamu angkat dalam tulisan kamu cukup menarik? Apakah pembaca mendapat keuntungan tertentu setelah membaca karya kamu (tambahan pengetahuan atau kepuasan)? Apakah cover yang kamu bayangkan cukup eye-catching untuk bersaing dengan ribuan atau bahkan jutaan buku lain di toko buku? Apakah sinopsis yang kamu rancang bisa menarik perhatian calon pembaca sehingga mau membeli buku kamu? Bahkan sampai ke hal-hal praktis seperti apakah buku ini nanti akan terlalu tebal sehingga pembaca malas mulai membacanya (meskipun Twilight Saga sudah begitu ngetop, salah satu teman tetap malas membacanya karena melihat ketebalannya), apakah kamu bisa minta pada penerbit untuk men-setting ukuran khusus sehingga buku kamu gampang dibawa-bawa oleh pembaca? Atau apakah kamu bisa minta jenis kertas khusus sehingga buku kamu ringan bila dibawa atau harganya bisa lebih murah?

Semua ini akan lebih membantu kamu saat mencipta. Kamu jadi punya bayangan yang utuh akan karya akan akan kamu ciptakan, dalam bahasan ini adalah buku yang kamu karang. Kalau kamu punya gambaran yang utuh, kamu akan lebih semangat mengerjakan naskah kamu, dan naskah kamu juga akan lebih mudah tembus ke penerbit. Jadilah pembaca pertama naskah kamu sendiri, bayangkan kekurangan dan kelebihannya, dan selamat berkarya!

(Disebarkan Oleh Donna)

Thursday, December 4, 2008

Kalender Raksasa Dengan 365 Jendela



Buku kalender dengan 365 jendela. Setiap hari, satu jendela. Bukan hanya untuk dibaca, buku ini juga bisa digantung di kamar sehingga setiap pagi kamu bisa membuka jendela baru.

Setiap hari ada kejutan baru: gambar dan syair lucu dari Januari sampai Desember. Setiap bulan memiliki tema yang berbeda supaya kita dapat mengungkap rahasia musim-musim sepanjang tahun bersama tokoh-tokoh lucu ciptaan Tony Wolf.

Intip isinya:




(Disebarkan oleh Dini. Desember 2008)

Tuesday, December 2, 2008

Kenapa GPU Menerbitkan Twilight?

Hm, itu pertanyaan yang punya jawaban menarik.

Saya mau buka cerita sedikit nih tentang proses pengambilan keputusan GPU menerbitkan Twilight-Stephenie Meyer. Selama hampir sembilan tahun saya bekerja di GPU, Twilight adalah buku yang setahu saya diambil rights-nya berdasarkan dorongan hati dan emosi. Kenapa? Novel ini diambil rights-nya semata-mata karena editor-editor yang membacanya “jatuh cinta” pada Edward.

Dua editor GPU membacanya pada saat yang nyaris bersamaan, dan belum selesai buku itu dibaca, keduanya langsung memutuskan untuk mengambil hak terjemahan buku ini dengan alasan, “Ya ampunnnn, buku ini keren banget. Nggak tahan gue sama Edward-nya. Aduhhhh.... Romantis bangeeeet.” (yeah, yeah, kami semua jadi lembek seperti tahu dan berubah jadi abege lagi bila membahas Twilight, dan yeah saya salah satu editor itu.)

Setelah buku ini diambil rights-nya, dari editor, buku ini berpindah ke tangan sekretaris dan marketing, dan semuanya kelepek-kelepek kelenger pada kisah cinta Edward dan Bella. Tidak kurang dari tiga bulan sejak buku ini “diributkan” di kantor, sebagian besar perempuan berusia 25-45 tahun di kantor telah membacanya, bahkan pernah menjadi bahan obrolan di rapat redaksi. (Cowok-cowok itu nggak ngerti kenapa cewek-cewek di kantor seperti kalap setiap kali bicara soal Twilight). Mata kami berbinar dan kata-kata seperti, “Uhhh”, “Ahhh” mengiringi penggambaran sosok Edward.

Sewaktu GPU mengambil hak terjemahan novel ini pada pertengahan tahun 2007, Twilight ini merupakan novel yang “tidak dilirik” oleh penerbit-penerbit lain di Indonesia, (untunglah :p). Padahal buku ini sebenarnya bukan buku baru. Twilight pertama kali terbit tahun 2005 dan menjadi fenomenal mulai akhir tahun 2007 ketika jutaan pembaca menanti-nantikan lanjutan buku ketiganya, Eclipse. Gejala ledakan Twilight ini sebenarnya sudah terasa pada Frankfurt Book Fair 2007, walaupun ketika itu tampilan buku fiksi yang meraksasa adalah Golden Compass-nya Philip Pullman. Baru pada awal tahun 2008, serbuan demam Twilight meledak dan menyebar ke seluruh dunia, terutama ketika berita tentang filmnya makin menghebohkan. Dan tidak ketinggalan pula di Indonesia yang terjangkit demam Edward ketika Twilight diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada Februari 2008.

Demam novel ini tidak cuma menjangkiti remaja dan dibahas dalam majalah-majalah ABG, berbagai majalah wanita dewasa tidak ketinggalan mengulas habis Twilight ini. Tidak hanya anak-anak ABG yang jadi penggila seri ini, tapi wanita dewasa, ibu-ibu, bahkan Barack Obama juga membacanya.

Kini selama tahun 2008, oplah cetak Twilight sudah hampir mencapai angka 50.000 eksemplar, dan hampir sebulan sekali cetak ulang. New Moon (Dua Cinta) sudah mencapai oplah 35.000 eksemplar. Bahkan cetakan pertama buku ketiganya, Eclipse (Gerhana) langsung dicetak sebanyak 12.000 eksemplar pada cetakan pertamanya untuk memenuhi permintaan toko buku, dan kini sudah memasuki cetakan keempat. Diprediksi pada tahun 2009, Twilight Saga ini masih akan menguasai toko buku Indonesia dengan terbitnya Breaking Dawn. Angka yang lumayan kan, berdasarkan keputusan impulsif yang cewek banget?

(Disebarkan oleh Hetih. Desember 2008)